Mag-log inTerdesak biaya operasi sang Ayah, Elena semakin frustrasi dengan keadaannya. Di tengah kalutnya isi kepala, ia tak sengaja bertemu Leon, seorang pria asing dingin yang tiba-tiba menawarkan sebuah kontrak. "Kamu akan jadi milikku!" katanya. Namun, yang Elena tidak tahu adalah bahwa ia tengah berhadapan dengan seseorang berdarah dingin.
view moreLeon menarik napas panjang, menghirup aroma garam laut yang bercampur dengan keharuman rambut Elena. Pertanyaan istrinya, “Jadi, tidak ada lagi kontrak?”Disambutnya dengan sebuah senyuman yang begitu tulus, jenis senyuman yang dahulu mustahil muncul di wajah sang predator Roma."Tidak ada lagi kontrak, Elena," jawab Leon, suaranya berat dan penuh kepastian. "Hanya ada janji. Dan janji tidak butuh materai atau tanda tangan darah. Janji hanya butuh aku yang selalu ada di sampingmu."Keheningan yang menyelimuti vila mereka bukan lagi keheningan yang mencekam karena kewaspadaan, melainkan ketenangan yang memeluk. Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya bulan dan lampu tidur remang-remang, Leon menuntun Elena kembali ke sisi tempat tidur bayi, di mana Valerius tertidur lelap.Hari-hari berikutnya di Sisilia adalah rangkaian kebahagiaan yang terasa hampir tidak nyata bagi Leon. Pria yang terbiasa memegang senjata kaliber berat itu kini menemukan bahwa tugas tersulit, sekaligus yang pal
sembilan bulan telah berlalu sejak langit Roma memerah oleh api pembalasan Leon Ricardo. Aroma mesiu dan anyir darah yang dulu melekat pada jas Leon kini telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh aroma lavender yang menenangkan dan bedak bayi yang lembut di sebuah vila tersembunyi di pesisir Sisilia.Di sini, di mana deburan ombak Mediterania menghantam tebing-tebing kapur dengan irama yang konstan, Leon tidak lagi berdiri sebagai iblis yang menagih hutang nyawa. Ia hanyalah seorang pria yang sedang belajar arti dari sebuah ketenangan yang hakiki.Elena terbangun bukan karena suara ledakan atau derap langkah sepatu bot yang mengintimidasi, melainkan karena keheningan yang begitu penuh. Ia menoleh ke samping, menemukan sisi tempat tidur yang sudah kosong namun masih menyisakan kehangatan.Dengan langkah perlahan, Elena berjalan menuju beranda luas yang menghadap langsung ke laut lepas. Di sana, pemandangan yang tersaji sanggup meluluhkan sisa-isa trauma masa lalu yang terkadang masih me
Elena berdiri mematung. Jemarinya yang biasanya lincah meracik kopi, kini gemetar hebat hingga belati kuno itu berdenting pelan saat bersentuhan dengan lantai marmer. Matanya yang bulat dan bening, mata yang membuat Leon pertama kali tertarik padanya di kafe kecil pinggiran kota itu—kini dipenuhi air mata yang tak sempat jatuh."Leon..." suara Elena nyaris hilang tertiup angin badai yang masuk melalui jendela pecah. "Aku... aku tidak ingin menjadi pembunuh. Tapi dia... dia mengatakan hal-hal buruk tentang ibumu. Dia bilang Isabella dibunuh agar aku bisa masuk ke hidupmu. Dan masih banyak lagi. Apakah kita perlu ke Roma?"Leon tidak segera menjawab. Ia melangkah maju, sepatu botnya yang berlumuran lumpur meninggalkan jejak kelam di atas permadani mahal. Setiap langkah Leon adalah intimidasi murni, namun saat ia berdiri tepat di depan Elena, aura predatornya luruh. Ia mengambil belati itu dari tangan Elena dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah Elena adalah porselen retak yang b
Leon tidak terkejut. Alih-alih ngeri, sebuah senyum predator yang tipis dan berbahaya terukir di sudut bibirnya. "Instingmu tajam, Elena," bisik Leon. Ia mengecup dahi Elena, meninggalkan noda merah kecil di kulit pucat istrinya. "Istirahatlah. Biarkan suamimu menyelesaikan pembersihan ini."Leon berdiri, tubuhnya tegak seperti menara beton yang tak tergoyahkan. Ia memungut *rifle* kustom miliknya, memeriksa magasin dengan gerakan mekanis yang sempurna. Di matanya, tidak ada lagi jejak kesedihan atas kematian ibunya. Yang tersisa hanyalah kalkulasi matematis tentang kematian musuh-musuhnya."Max," Leon memanggil tanpa menoleh."Ya, Tuan?" Max melangkah maju, napasnya masih terengah."Segel lantai ini. Jika ada lalat sekalipun yang mencoba masuk tanpa izin, kau tahu apa yang harus dilakukan pada keluarga mereka." Leon mengokang senjatanya. Bunyi 'clack' logam itu bergema di seluruh ruangan seperti lonceng kematian. "Aku akan turun ke pelabuhan. 'The Council' mengirimkan anjing-anjingn
Leon tidak menunggu jawaban dari bibir Elena yang masih bungkam. Baginya, keheningan adalah instruksi, dan kemarahan adalah bahan bakar."Aku pergi dulu."Ia membalikkan badan, jubah hitamnya berkibar mengikuti langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai.Di aula luar, Max sudah menunggu
Beberapa hari kemudian, tepatnya dibawah sana, kota abadi itu tampak rapuh.Leon duduk bersandar, memejamkan mata. Namun, yang ia lihat bukanlah kegelapan, melainkan wajah Elena yang pucat pasi di bawah lampu neon rumah sakit kapal. Setiap kali ia berkedip, ia seolah mendengar bunyi bip monitor jan
Lampu neon di lorong ruang intensif berkedip tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam yang berusaha menggapai Leon. Pria itu berdiri mematung di depan kaca besar yang memisahkan dunianya dengan Elena. Di dalam sana, istrinya tidak lagi terlihat seperti manusia; E
Guncangan helikopter perlahan mereda saat roda-roda Black Hawk menghantam landasan pacu kapal induk Il Monarca dengan keras. Namun, bagi Leon, turbulensi yang sesungguhnya baru saja dimulai.Di depannya, inkubator transparan yang membawa putranya didorong dengan tergesa oleh Sofia, sementara di sis


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu