MasukTerdesak biaya operasi sang Ayah, Elena semakin frustrasi dengan keadaannya. Di tengah kalutnya isi kepala, ia tak sengaja bertemu Leon, seorang pria asing dingin yang tiba-tiba menawarkan sebuah kontrak. "Kamu akan jadi milikku!" katanya. Namun, yang Elena tidak tahu adalah bahwa ia tengah berhadapan dengan seseorang berdarah dingin.
Lihat lebih banyakPria kejam yang ditakuti seluruh mafia dunia itu kini menundukan kepalanya dalam-dalam di atas meja kerja, meremas rambutnya sendiri.Pikirannya melayang kembali pada awal mula kutukan ini. Kontrak sialan itu. Pertemuan tak sengaja di lorong rumah sakit kumuh saat Elena menangis karena tidak punya uang untuk biaya operasi ayahnya. Kontrak yang ia tawarkan dengan kesombongan seorang iblis: "Kamu akan jadi milikku!"Leon mengira uang dan kekuasaannya bisa mengatur segalanya. Namun nyata, dunia hitamnya justru mengisap seluruh kebahagiaan Elena sampai tidak bersisa.Pertama, ayahnya. Lelaki tua yang menjadi satu-satunya alasan Elena sudi merendahkan harga dirinya demi kontrak itu, justru tewas. Elena kehilangan jangkar hidupnya. Lalu... kepedihan yang paling jahanam. Valerius, bayi kecil mereka ikut menyusul.Leon memukul dadanya yang sesak. Anak mereka. Darah daging mereka yang baru sekejap menghirup udara dunia, harus mati mengenaskan akibat serangan bom dan gas beracun di tengah kalut
"Elena...."Raungan Leon Ricardo malam itu tenggelam di antara gemuruh ledakan yang meruntuhkan separuh megahnya griya tawang. Suara yang biasanya memberi perintah kematian dengan nada dingin mutlak, kini pecah menjadi jeritan seorang pria yang kehilangan seluruh dunianya. Di pangkuannya, Elena, wanita kafe yang semula hanya selembar kertas kontrak, wanita yang ia beli untuk menjadi tameng—kini terbujur kaku. Gaun beludru hitam yang dikenakannya telah basah seutuhnya oleh darah hangat yang perlahan mendingin."Elena... bangun. Aku memerintahkanmu untuk bangun!" bisik Leon. Suaranya bergetar hebat, jemarinya yang gemetar mencoba menghapus noda darah dan jelaga di pipi pucat istrinya. Namun, kelopak mata yang indah itu tetap terpejam rapat. Tidak ada lagi binar penuh dendam yang melunak menjadi cinta.Di sekeliling mereka, neraka benar-benar bermanifestasi. Api merah marun menjilat langit-langit gipsum, meruntuhkan pilar-pilar beton yang hancur akibat bom C-4 milik Andrian Romanov. A
Tangis Elena pecah, mengalun pilu di dalam ruangan mewah yang kini terasa seperti penjara bawah tanah. "Aku membencimu saat pertama kali tahu. Aku ingin melihatmu mati saat kamu terpuruk di rumah sakit itu! Tapi setiap kali aku melihat sepasang kakimu yang cacat karena melindungi wilayah kita... setiap kali aku mengingat bagaimana kamu memperlakukanku lebih dari sekadar wanita pengganti... hatiku hancur."Leon memandangi wajah wanita di hadapannya. Elena begitu cantik, begitu murni, namun telah ternoda oleh pekatnya dunia hitam yang dia bawa. Kisah mereka yang berawal dari kepalsuan dan status 'wanita pengganti' telah berubah menjadi jalinan cinta yang teramat kuat, namun kini cinta itu justru menjadi racun yang paling mematikan."Kamu mengorbankan dendammu... demi aku?" bisik Leon, setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang biasa menatap dingin pada kematian."Aku memilihmu, Leon. Aku membunuh separuh jiwaku yang menangisi ayahku, demi menjadi ratu yang berdiri di sampingmu,"
Kata-kata yang tertulis di sana bukan sekadar ancaman, itu adalah belati tak kasat mata yang langsung mengoyak fondasi megah yang baru saja mereka bangun kembali di atas darah klan Volkov. 'Apakah suamimu tahu, siapa yang sebenarnya yang menewaskan ayahmu malam itu?' Ruangan griya tawang yang tadinya hangat oleh aroma anggur mahal dan kemenangan, mendadak menjelma menjadi ruang hampa udara. Elena terpaku. Gelas kristal di tangannya perlahan bergetar, membuat cairan merah di dalamnya beriak resah, seiras dengan badai yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dadanya. Leon perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Tatapan matanya yang sedingin es kini terkunci pada perubahan ekspresi Elena. Sebagai pria yang diberkati otak jenius, dia tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari bahwa pesan di ponsel istrinya adalah kelanjutan dari senandung kematian yang baru saja didengarnya. "Elena," suara Leon berat, memecah keheningan dengan nada yang begitu rendah hingga mampu menggetarkan kaca-k
Keesokan harinya, ketika langit pagi itu tidak memberikan janji apa pun selain kelabu yang menggantung rendah. Mansion Leon yang biasanya terasa seperti benteng yang angkuh, hari ini tampak lebih sunyi, seolah dinding-dingin batunya pun tahu bahwa Elena sedang mempersiapkan diri untuk sebuah konfr
"Leon!" teriak Elena di antara raungan sirene.Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Elena sekilas, sebuah tatapan yang menyiratkan janji sekaligus perpisahan yang tak terucap."Status!" bentak Leon."Dua torpedo berhasil dihindari, Tuan. Kapal perusak di atas kita menjatuhkan bom
Elena tidak lagi merasakan dingin yang menusuk tulangnya. Rasa takut yang sedari tadi menghantuinya kini berubah menjadi amarah yang murni dan tajam. Tangannya yang memegang pistol tidak lagi gemetar.Elias berdiri diam di ambang pintu. Sinar matahari pagi yang mulai masuk ke celah-celah kayu gubuk
Leon berdiri mematung, napasnya menderu seperti mesin tua yang dipaksa bekerja melampaui batas. Darah di buku jarinya, ada campuran antara darahnya sendiri dan darah Dante menetes perlahan, menciptakan pola abstrak di atas lantai beton yang dingin. Kata-kata terakhir Dante menggantung di udara, le






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan