Bayangan itu tinggi, tegap, dan memancarkan aura otoritas yang memuakkan. Bau parfum mahal yang bercampur dengan aroma amis laut masuk menyelinap ke dalam kamar, mengusir aroma vanila milik Elena yang biasanya menenangkan."Keluar dari kamar ini, Leon. Kamu sudah kalah sejak kau mulai mencintai sesuatu yang bukan milikmu," suara itu tenang, nyaris seperti bisikan seorang pendeta di tengah pengakuan dosa.'Andrian.'Elena terpaku di depan pintu, jemarinya masih mencengkeram gagang besi yang dingin. Di depannya, kegelapan lorong vila yang tadinya merupakan benteng perlindungan, kini terasa seperti mulut monster yang siap menelannya. Namun, suara tangis bayinya adalah kompas yang memaksanya berbalik."Jangan sentuh dia!" jerit Elena. Suaranya pecah, bergema di antara dinding-dinding marmer.Leon sudah berada di depan boks bayi, tubuhnya menjadi perisai hidup. Ia tidak membidikkan senjatanya ke arah pintu, ia tahu ada penembak jitu di luar sana yang hanya menunggu alasan untuk menarik pel
Read more