Kata-kata itu jatuh begitu saja, sederhana, tanpa hiasan namun cukup untuk membuat dunia di sekitar Viviene seolah berhenti bergerak. Suara sekop yang menghantam tanah, langkah para pekerja yang mondar-mandir, bahkan desir angin yang menyapu dedaunan taman, semuanya terasa menjauh, seperti ditelan oleh keheningan yang tiba-tiba mengental.Viviene tidak langsung bereaksi. Bibirnya sedikit terbuka, lalu tertutup kembali. Matanya bergerak pelan, menyapu wajah Selene, lalu taman di sekeliling mereka, seolah sedang menimbang apakah kalimat barusan benar-benar diucapkan… atau hanya gema pikirannya sendiri.“Keluar… kastil?” ulangnya perlahan, setiap suku kata terdengar asing di lidahnya.“Ya,” jawab Selene singkat. Nada suaranya tenang, nyaris datar. “Aku sudah mempertimbangkannya matang-matang.”Viviene terkekeh kecil. Tawa itu pendek, kering, dan sama sekali tidak mengandung humor. “Menarik,” katanya. “Aku baru saja mulai merasa… diterima.”Selene tidak terpengaruh. Wajahnya tetap tenang,
Last Updated : 2026-02-05 Read more