Selene berdiri tegak di sisi ruangan, tidak bergeser sedikit pun sejak tadi. Tatapannya tertuju pada Viviene tenang, namun tidak lagi sepenuhnya datar. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana, sesuatu yang tidak ia tunjukkan dengan kata-kata.“Dirian meminta maaf bukan untuk mengubah sesuatu,” ucapnya akhirnya, suaranya lembut namun tegas, mengisi ruang yang terlalu lama dibiarkan sunyi. “Dia meminta maaf… karena memang itu yang seharusnya dia lakukan.”Viviene tidak langsung menjawab.Matanya tetap menatap Selene, seolah mencoba menembus kata-kata itu, mencari makna lain di baliknya. Namun yang ia temukan hanya ketenangan, ketenangan yang justru terasa asing.Selene melangkah sedikit lebih dekat, meski tetap menjaga jarak.“Entah apa arti kata maaf itu bagimu,” lanjutnya pelan, “yang perlu kau pahami adalah… dia sudah cukup merendahkan dirinya untuk mengatakannya. Dan itu bukan sesuatu yang mudah.”Nada suaranya tidak meninggi, tidak juga memaksa.Namun justru karena itu, setiap katanya
Read more