"Sher, mama minta maaf, ya."Suara itu begitu tulus, matanya memerah dan bagaimana dia memeluk Sherly erat-erat ketika tiba di ruang rawat inapnya tadi, membuat hati Sherly menghangat. Mama. Dia tidak lagi membiarkan Sherly memanggilnya ibu, sebuah tanda bahwa sosok itu sudah mau menerimanya menjadi bagian dari keluarga mereka.Sherly menatap dalam-dalam mata itu, semoga ia tidak salah membaca, karena memang tidak ada kebohongan yang dia temukan di sana. "Mama nggak salah, sebagai orang tua, tentu Mama ingin yang terbaik buat anaknya dan--.""Tapi cara mamamu salah, Sher!" potong Aji cepat. "Mau bagaimanapun itu sudah mutlak salah!"Kini Sherly menatap papa mertuanya, ia tidak lagi berani membantah apalagi setelah itu suara pintu kamar yang terbuka membuat semua kompak menoleh ke arah sumber suara. Gerrard nampak datang, mendorong sendiri box bayi itu dengan wajah berseri-seri. Jejak air mata masih nampak di sana dan jangan lupa, mata suaminya itu masih sembab memerah. Jantung Sh
Read more