"Siap?"Nara hanya mengangguk, jujur ia sedikit kesulitan melangkah, namun ada Wilson yang tak pernah melepaskan tangan darinya, membuat Nara akhirnya yakin dan tidak lagi mempermasalahkan geraknya yang sedikit terhambat ukuran perut yang mulai membukit ini. Ia menapaki tanah yang mengering, untung musim kemarau, Nara tidak membayangkan bagaimana jika ia datang di musim penghujan. Berbeda dengan makam papanya, makam mamanya terletak jauh ditempat lain, cukup masuk ke dalam dan tidak diistimewakan seperti makam papa dan leluhur Nara dari pihak mereka. Mata Nara memanas, sehina ini ibunya di mata mereka sampai ketika sudah tak bernyawapun, mereka memisahkan mereka cukup jauh. "Jangan khawatir, makam mama kondisinya sudah lebih baik. Orang suruhan Fai selalu datang buat bersihin makam mama." ucap Wilson sembari terus memperhatikan langkahnya, memastikan langkah Nara tetap seimbang. "Terimakasih banyak ya, Mas. Makasih udah lakuin semua buat aku." ucap Nara dengan hati menghangat. "
Read more