“Cari orang yang berencana celakai saya.” suara itu bergetar, sarat bara dendam yang menggelora.“Baik, Tuan.” “Permisi, Pak.” Seorang perawat membuka pintu dari ruang pre-operasi dan berdiri di ambangnya. ”Kalau ingin melihat bayinya, mari saya antar.” Dimas susah payah menelan ludah. Langkahnya diayun ragu mengikuti seorang perawat berseragam putih. Di sebuah ruangan dengan beberapa ranjang pasien berjajar, ada satu meja luas dengan gundukan kecil di atasnya, seperti bayi yang diselimuti.Perawat itu berdiri di sana. Mengangkat sesuatu yang mungil seperti gulungan selimut itu ke pelukan, lalu membawanya mendekat ke arah Dimas.“Anaknya laki-laki. Mirip sekali dengan Bapak.”Dimas meraihnya, membawanya ke pelukan. Sangat ringan. Seperti belum berbobot. Seolah menyatakan bahwa fisiknya hadir, tetapi kehidupannya kosong.Dimas terperangah, keajaiban yang selama ini membuatnya takjub, terasa nyata di ujung jarinya. Wajah mungil itu pucat, bahkan nyaris membiru—tidak ada rona merah se
Terakhir Diperbarui : 2026-02-05 Baca selengkapnya