Di ruang kantornya yang suram, aura Dr. Surya terasa berat, lebih pekat dari kabut polusi Jakarta. Raut wajahnya tegang, sorot matanya tajam dan tidak sabar, menyorot dua bawahannya yang berdiri kaku di depannya: Franda dan Kaiden. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, irama yang makin lama makin cepat, tanda betapa frustrasinya ia sekarang."Sudah berminggu-minggu," desis Dr. Surya, suaranya pelan tapi menusuk, seperti pisau dingin. "Kalian masih belum bisa menemukan rahasia pernikahan Bima? Atau siapa yang sebenarnya sedang dekat dengan Lidya?"Franda dan Kaiden, dua agen intelijen yang biasanya punya jawaban untuk segala hal, kali ini hanya bisa menunduk. Kepala mereka otomatis merunduk dalam, bukan karena hormat, tapi karena rasa malu. Mereka tahu, tidak ada hasil memuaskan yang bisa mereka berikan. Gagal total."Maaf, Dok," gumam Franda pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. "Semua jejak pernikahan Pak Bima itu... kabur. Seperti tidak pernah ada."Kaiden menambahkan, "Betul, Dok. Lidy
Zuletzt aktualisiert : 2025-11-11 Mehr lesen