Kediaman Lidya Paramita Wardhana di Semarang Atas, sebuah oase ketenangan yang sering kali menyamarkan badai di baliknya, kini menjadi saksi bisu bagi permufakatan yang merangkai takdir dua klan besar, Mahawira dan Wisesa, dalam ikatan yang paling kelam.Atmosfer dalam ruang kerja Lidya terasa dingin, kontras dengan udara malam di luar yang sejuk. Di tengah ruangan, Alvin Mahawira berdiri membelakangi jendela, siluet tubuhnya yang gagah kini memancarkan kerentanan. Bahunya tampak merosot, dan wajahnya, yang sesaat lalu masih menunjukkan gairah amarah yang membakar, kini terpahat dalam topeng keputusasaan yang pilu. Kevin Wisesa, di sisi lain, duduk tenang di salah satu sofa kulit, meskipun ketenangan tersebut hanyalah permukaan yang menyembunyikan badai pertimbangan dalam benaknya.“Baik, Kevin,” suara Alvin memecah kesunyian, bergetar tipis namun tegas, seperti dawai yang direntangkan hingga batasnya. “Aku terima syarat gila itu. Masuklah ke dalam lingkaran suami Lidya jika itu meman
Última actualización : 2026-02-27 Leer más