Nafia terlihat ragu beberapa detik saat akan menjawab, wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya penuh kepanikan.“Obat itu bukan milikku.”Pintu lift menutup sebelum Kanaya sempat bertanya Kanaya berdiri terpaku beberapa saat. Liam menatap pintu lift, lalu beralih kepadanya.“Apa yang dia katakan?”Kanaya mengangkat wajah. “Dia bilang obat itu bukan miliknya, dok.” sahutnya pelan.Liam mengerutkan kening. “Maksudnya?”“Aku tidak tahu.”Ponsel Liam berdering. Ia membaca pesan yang masuk, dan ekspresinya seketika berubah.“Ada apa?” tanya Kanaya.Liam menunjukkan layar ponselnya. Sebuah foto kemasan obat telah dikirim oleh perawat dari kamar hotel. Di bagian bawah kemasan terdapat nama pasien lain, ditulis dengan tinta hitam yang mulai luntur.Kanaya membaca nama itu sekali, lalu menatap Liam.“Bukankah ini kamar yang kita tempati semalam?”Liam tidak segera menjawab, dan dari arah koridor, seorang petugas keamanan berlari mendekat.“Dokter Liam, ada sedikit masalah di lobi,” katanya t
Read more