Melihat lawannya pergi begitu saja, senyum puas langsung terukir di wajah Jonathan. Dia kemudian membusungkan dada, menoleh kepada Aurora, lalu berkata dengan penuh percaya diri, "Aurora, tenang saja. Selama aku di sini, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu."Aurora hanya mengernyit tipis. Sejak awal hingga akhir, dia tidak memberikan tanggapan apa pun. Entah mengapa, sikap pria tua berjubah abu-abu yang pergi tanpa banyak bicara justru membuat firasat buruk muncul di dalam hatinya.Di saat yang sama, Jonathan kembali menoleh ke arah Harris. Tatapannya langsung berubah tajam. "Sialan! Kenapa kau masih diam di sini? Bukankah tadi sudah kusuruh pergi?" Dia mendengus sinis. "Apa kau ingin aku sendiri yang mengusirmu, dasar sampah?"Ekspresi Harris tetap tenang. "Aurora yang mempekerjakanku, bukan kau." Tatapannya bertemu dengan mata Jonathan. "Jadi kau tidak punya hak menyuruhku pergi.""Kau..." Wajah Jonathan langsung memerah karena marah.Dia mengangkat tangan, berniat memberi pelajara
Read more