LOGINDi balik pintu besi yang dingin, Harris mengira ia akan menemukan akhir dari penderitaannya. Namun, yang ia temukan adalah pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya. Dibuang, dihina, dan dianggap tak lebih dari sampah, ia terpaksa menelan pil pahit. Pengkhianatan istrinya, Sera, dan sahabat karibnya, Simon, menjadi luka yang tak tersembuhkan. Ia jatuh ke titik terendah, kehilangan segalanya, bahkan suaranya. Di tengah putaran nasib yang kejam, ia bertemu Queen, tunangannya dari masa lalu. Di hadapan Queen, Harris yang tak berdaya kini harus bangkit. Dengan dendam yang membara di dada dan kekuatan misterius yang bangkit dalam dirinya, akankah ia mampu membalikkan takdir? Atau apakah ia hanya akan menjadi badut bagi takdir itu sendiri?
View MoreAroma parfum mahal dan anggur terbaik berbaur di udara, menjadi musik latar bagi denting gelas kristal dan tawa renyah para elite kota. Di dalam aula utama Hotel Movi yang bermandikan cahaya keemasan, setiap sudut adalah panggung kekuasaan. Karpetnya begitu tebal hingga mampu meredam suara langkah, seolah hanya bisikan transaksi miliaran rupiah yang pantas terdengar di sini.
Di tengah kemewahan itu, Harris Gunawan berdiri seperti sebuah sketsa usang yang salah tempat. Setelan jas murah yang dipinjamnya tampak kusam di bawah lampu gantung megah, dan kerahnya sedikit berjumbai. Lima tahun di balik jeruji besi telah mengikis semua cahaya dari dirinya, meninggalkan sepasang mata yang terlalu dalam dan diam. Dia tidak bisa bicara. Jerat kawat panas yang membakar pita suaranya di penjara telah memastikan itu.
Pandangannya terkunci pada dua sosok di panggung kecil di ujung aula. Sera—istrinya, dan Simon—sahabatnya. Tatapannya kosong, dipenuhi dengan keterkejutan yang mendalam.
Sera dalam balutan gaun malam berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, tampak seperti dewi. Di sisinya, Simon tersenyum puas, satu tangannya melingkari pinggang Sera dengan posesif. Mereka adalah raja dan ratu malam ini.
"Harris, aku tidak menyangka kau punya nyali untuk datang," bisik sebuah suara di sampingnya.
Harris menoleh. Itu Sera. Entah sejak kapan wanita itu sudah turun dari panggung dan berdiri di hadapannya. Senyum di bibirnya indah, namun matanya sedingin es.
"Lihat dirimu," lanjutnya, suaranya pelan agar hanya Harris yang mendengar, namun setiap katanya adalah tamparan. "Seorang narapidana yang bau terasi, berani menginjakkan kaki di perayaanku? Kau tahu, jas yang kau pakai itu bahkan tidak seharga satu botol anggur di meja sana," timpalnya seraya melirik ke arah meja nomor 8.
Harris mengepalkan tangannya di dalam saku. Jantungnya berdenyut nyeri, seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Dia ingin berteriak, ingin memaki, ingin menanyakan kenapa. Tapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah sunyi. Keheningan yang memuakkan.
"Oh, aku lupa," Sera terkekeh pelan, sebuah suara merdu yang kini terdengar mengerikan. "Kau bahkan tidak bisa memohon lagi, ya? Mesin jahit kecilku yang malang."
Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, aroma manis parfumnya menusuk hidung Harris. "Dengar, Harris. Semua aset keluargamu, semua yang kakekmu bangun, sudah kujual. Ludes. Sekarang kau bukan siapa-siapa. Hanya pecundang bisu yang tidak punya apa-apa."
Dunia Harris seakan runtuh untuk kedua kalinya. Lima tahun lalu, dia menyerahkan segalanya pada wanita ini atas nama cinta, masuk penjara untuk menutupi kesalahannya. Dia pikir pengorbanannya akan dihargai. Betapa bodohnya.
Amarah, panas dan membara, akhirnya meluap. Dia menatap Sera dengan tatapan membunuh, mengambil satu langkah maju.
"Eits, mau apa kau?" Suara Simon memotong. Pria itu kini berdiri di antara mereka, senyum mengejek terpasang di wajahnya. "Jangan galak begitu, sobat. Kau harusnya berterima kasih padaku."
Simon merangkul bahu Harris dengan sok akrab, cengkeramannya terasa menyakitkan. "Istrimu kesepian selama kau pergi. Kalau bukan aku yang dengan baik hati menemaninya... yah, kau tahu, kan? Bahkan di malam pernikahan kalian saat kau mabuk seperti babi, akulah yang menunaikan ‘tugas’mu."
Tawa pecah di sekitar mereka. Beberapa tamu yang mendengar percakapan itu mulai menatap dengan senyum sinis. Badut pertunjukan telah tiba.
Cukup.
Sebuah raungan tanpa suara meledak di dalam dada Harris. Logika lenyap, digantikan oleh insting murni untuk menghancurkan. Dia menerjang maju, meninju wajah Simon yang terkejut.
Tapi itu hanya satu pukulan. Simon yang tubuhnya lebih besar dan terawat, segera membalas. Sebuah bogem mentah menghantam rahang Harris, membuatnya terhuyung. Sebelum dia bisa kembali seimbang, Sera bergerak.
KRAAK!
Nampan logam berisi gelas kosong diayunkan dengan kekuatan penuh ke belakang kepala Harris. Rasa sakit yang tajam meledak, diikuti oleh sensasi hangat dari darah yang merembes ke rambutnya. Pandangannya kabur, dan lututnya lemas. Dia jatuh ke karpet tebal, suara tawa di sekelilingnya terdengar menjauh.
"Aku akan memberitahumu satu rahasia lagi, anjing," desis Simon, berjongkok di sampingnya. Bau alkohol dari napasnya membuat Harris mual. "Semua 'kecelakaan' yang kau alami di penjara? Pisau di punggungmu, kawat panas di lehermu? Itu semua ide cemerlang Sera. Kami tidak menyangka kau bisa selamat. Tapi lihatlah, kau jadi bisu. Hasil yang cukup bagus, bukan?"
Sambaran petir. Itulah rasanya.
Pengorbanan, harapan, cinta... semuanya ternyata hanya lelucon kejam yang mereka rancang. Air mata panas bercampur dengan darah mengalir dari pelipisnya. Dia tidak membenci mereka. Dia membenci dirinya sendiri.
"Buang sampah ini," perintah Simon kepada petugas keamanan.
Tubuh Harris diseret tanpa perlawanan, melewati tatapan-tatapan menghina, dan dilempar ke gang belakang hotel yang gelap dan basah. Hujan mulai turun, dingin dan menusuk, membersihkan darah dari wajahnya, namun tidak bisa memadamkan api di dalam jiwanya.
Dia terbaring di selokan yang bau, air hujan yang kotor merembes ke dalam lukanya. Seekor tikus melintas di dekat kakinya. Dia tidak peduli. Dia hanya menatap langit kelabu, sebuah tekad yang mengerikan mulai terbentuk di dalam hatinya yang hancur.
‘Aku tidak akan mati di sini. Aku akan kembali. Dan aku akan mengambil semuanya.’
Saat kesadarannya mulai memudar, sepasang lampu mobil yang menyilaukan menembus kegelapan gang. Sebuah Bentley hitam berhenti dengan anggun. Pintu belakang terbuka, menampakkan sepasang kaki jenjang berbalut stoking sutra hitam, diakhiri dengan sepatu hak tinggi berwarna biru malam.
Seorang wanita dengan aura sedingin es keluar dari mobil. Gaunnya yang pas di badan tidak bisa menyembunyikan postur tubuhnya yang sempurna. Di tengah hujan lebat, wajahnya tetap tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak berarti.
"Nona, dia—" seorang pengawal berpayung mencoba bicara.
"Diam," potong wanita itu, suaranya tajam namun merdu. Dia melangkah mendekat, air hujan membasahi ujung gaunnya. Matanya yang tajam menatap wajah Harris yang babak belur. "Jadi, ini tunangan yang Kakek pilihkan untukku? Pewaris keluarga Gunawan... berakhir seperti ini?"
Ada nada keraguan dalam suaranya, tapi kemudian matanya menangkap kilau samar dari balik kemeja Harris yang robek. Sebuah liontin giok. Sama persis dengan yang melingkar di lehernya.
"Bawa dia," perintahnya dengan dingin. "Ke kamarku."
Saat Bentley itu melesat menembus malam, tak ada yang menyadari bahwa di gang kotor itu, takdir baru saja memutar rodanya. Sang Dokter Dewa, yang tertidur selama beberapa generasi, mulai membuka matanya.
Sebelum membuka pintu, dia berbisik kepada orang yang diyakininya masih berada di belakang. "Target kemungkinan ada di kamar ini. Begitu bergerak, selesaikan secepat mungkin. Jangan buang waktu."Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Keheningan yang ganjil membuatnya mengernyit, lalu dia menoleh dengan waspada. Seketika, pupil matanya menyusut ketika mendapati lorong di belakangnya telah kosong tanpa jejak seorang pun.Rasa dingin langsung menjalar ke sekujur tubuhnya. Anak buahnya adalah pembunuh terlatih yang tidak mungkin bertindak sembarangan, apalagi meninggalkan posisi tanpa perintah. Namun, sejak awal dia tidak mendengar suara pertempuran, jeritan, ataupun tanda-tanda penyergapan. Mereka seolah menghilang begitu saja, ditelan oleh kegelapan.Pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal itu membuat napasnya mulai tidak teratur. Keyakinannya mulai runtuh karena musuh yang dihadapinya mampu melenyapkan tiga pembunuh berpengalaman tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Seolah bayan
Mata Aurora langsung membelalak. Dia menoleh perlahan mengikuti arah pandang Harris.Di balik kaca kamar mandi, sesosok pria berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup topeng sedang bergantung terbalik di luar gedung. Kepalanya perlahan bergerak ke kiri dan kanan, mengintip ke dalam kamar mandi, seolah memastikan apakah masih ada orang di sana.Beruntung, Harris sudah lebih dulu bereaksi.Begitu lampu padam, dia langsung menarik Aurora menjauh dari area yang dapat terlihat dari jendela. Posisi mereka kini tersembunyi di balik sudut dinding, membuat pria bertopeng itu sama sekali tidak menyadari keberadaan keduanya.Melihat keadaan di dalam kamar mandi tampak aman, pria bertopeng itu perlahan membuka jendela tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dengan gerakan yang ringan dan terlatih, dia melompat masuk ke dalam.Seluruh proses berlangsung begitu senyap, nyaris tanpa suara.Sret!Namun, tepat saat kedua kakinya menyentuh lantai, kilatan cahaya merah darah melintas di depan matanya.S
"Ahhhhhhh!"Jeritan yang jauh lebih nyaring langsung menggema memenuhi seluruh suite."K-kamu... keluar sekarang juga!"Aurora berseru dengan wajah semerah tomat. Dengan panik, dia meraih handuk mandi di dekatnya lalu segera membungkus tubuhnya. Matanya yang mulai berkaca-kaca menatap Harris dengan campuran malu dan kesal, seolah air mata bisa jatuh kapan saja.Bagi pria kebanyakan, melihat Aurora dalam keadaan seperti itu mungkin akan membuat hati mereka goyah. Namun, Harris bukanlah pria biasa. Pengalaman hidupnya yang panjang telah menempa ketenangannya. Setelah sempat terkejut sesaat, dia segera memalingkan pandangan dan bersiap menutup kembali pintu kamar mandi.Tok! Tok! Tok!Tepat pada saat itu suara ketukan pintu terdengar."Nona Aurora! Apa yang terjadi? Apa Anda baik-baik saja?"Suara para pengawal terdengar penuh kepanikan dari balik pintu suite. Dari nada mereka, jelas mereka siap mendobrak masuk jika tidak segera mendapat jawaban.Aurora langsung tersentak, wajahnya semak
Waktu berlalu begitu cepat hingga tanpa terasa malam pun tiba.Pihak Hotel Cendana mengantarkan makan malam ke dalam kamar. Harris dan Aurora akhirnya keluar dari kamar masing-masing untuk makan bersama. Meski begitu, Aurora tampak sedikit murung. Sesekali dia melirik Harris dengan tatapan kesal yang membuat pria itu benar-benar tidak mengerti apa kesalahannya.Usai makan malam, Harris tidak kembali berkultivasi. Kali ini dia memilih bersantai di sofa sambil menonton televisi. Tak lama kemudian, Aurora yang mulai bosan berada sendirian di kamar ikut keluar dan duduk di sampingnya untuk menonton bersama.Belum lama mereka menikmati acara di televisi, Aurora tiba-tiba mengernyit. Kepalanya sedikit dimiringkan, seolah sedang berusaha menangkap sesuatu."Apa kau mendengarnya?" bisiknya pelan.Mengira ada sesuatu yang mencurigakan, Harris langsung waspada. Dia mengecilkan volume televisi, lalu memusatkan seluruh indranya ke sekeliling kamar hotel.Beberapa detik kemudian, mereka akhirnya m
"Sentuh aku, dan dia akan berhenti bernapas dalam sepuluh detik," ujar Harris, tatapannya terkunci pada putra Tuan Hidayat, Bima.Ada aura tak terbantahkan dalam dirinya, sebuah ketenangan sedingin es di tengah badai emosi, yang membuat kedua pengawal berbadan tegap yang maju menjadi ragu. Langkah
"Kau sudah punya alatnya. Sekarang apa?" tanya Queen saat mereka berada di dalam Bentley, melaju tanpa suara melewati jalanan lengang di kawasan elite. Di dalam mobil, aroma kulit mahal berbaur dengan aroma samar kayu cendana dari kotak yang tergeletak di pangkuan Harris. "Kau tidak bisa langsung m
Queen mengangkat sebelah alisnya yang terpahat sempurna, sebuah gestur kecil yang memancarkan keraguan sedingin es. "Kau?" ejeknya, nada suaranya tajam menusuk. "Seorang pria yang beberapa jam lalu sekarat di selokan, akan menyembuhkan penyakit yang bahkan ditolak oleh tim dokter kepresidenan?"Sar
Mendengar suara itu, Harris tidak tersentak. Dia hanya menoleh perlahan, matanya yang kini jernih dan tajam bertemu dengan tatapan dingin wanita itu. Di masa lalu, komentar sarkastis seperti itu akan membuatnya menunduk malu. Kini, dia hanya merasakan ketenangan yang aneh.Pengetahuan yang membanji






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews