Suara tiba-tiba dari arah belakang membuat mereka terkejut. Seorang pria paruh baya muncul, membawa sapu di tangannya. “Eh, Mas, anu, kita mau ikut ritualnya, Mas,” jawab Riyan cepat, sambil melirik ke Luna yang hanya mengangguk pelan. Pria itu mengedarkan pandangan, seolah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. “Saran saya sih... sebaiknya jangan, Mas.” Ia mendekat, lalu menunduk sedikit dan berbisik. “Soalnya yang bersihin kamar tempat ritual itu saya, dan tiap selesai ritual, isinya selalu... noda darah. Satu ruangan penuh.” Riyan dan Luna langsung saling pandang. Luna sedikit mengernyit, sedangkan Riyan pasang wajah memelas penuh harap, meminta Luna bantu menjawab jawab karena dia udah bingung mau ngomong apa. Luna menghela napas pelan, lalu menatap pria itu tajam. “Kami ini sebenarny
Terakhir Diperbarui : 2026-01-18 Baca selengkapnya