로그인Ketika monster bernama beast mulai menguasai dunia, manusia hanya bisa bertahan lewat organisasi militer Chaser. Namun hidup Riyan berubah drastis saat ia tanpa sengaja menjadi vessel bagi beast misterius bernama Ariel. Bersama rekan-rekannya, Riyan harus memilih: tetap manusia atau tenggelam dalam kekuatan beast yang bisa menghancurkan segalanya.
더 보기Hari-hari berlalu dengan tenang. Sudah hampir sebulan sejak kejadian itu. Riyan dan Luna akhirnya mendapat operasi untuk menangani luka mereka. Kini, mereka telah dipulangkan ke rumah masing-masing agar proses pemulihan berjalan lebih nyaman. Malamnya, di sebuah restoran pinggir pantai... Langit gelap menggantung kelam di atas bangunan bernama “Dermaga Rasa.” Lampu neon pada papan nama berpendar lembut, menyinari kursi-kursi pelanggan yang telah kosong. Malam sudah larut, hanya terdengar suara ombak memecah pantai dari kejauhan. Beberapa pelayan tampak sibuk membersihkan meja dan lantai. Di dekat kasir, seorang pegawai sedang menghitung pemasukan hari ini, sementara di monitor depan matanya terlihat data pelanggan "khusus" bulan ini—mereka bukan sekadar pelanggan biasa. Seorang pria keluar dari ruang belakang. Penampilannya rapi, dengan kemeja berkerah dan ar
“Eh, eh, jajan, yuk!” ajak Talita sambil langsung berdiri, matanya berbinar-binar. “Oke. Jajan sekalian mandi hujan, ya,” sahut Mila sambil melirik ke luar jendela. Bibirnya mengerucut. Hujan memang sedang mengguyur kota. Talita baru sadar. “Eh, iya juga. Emang di dalam sini nggak ada kantin gitu?” Mila menggeleng sambil berkata, “Nggak a-da.” “Yahh...” Talita kembali duduk di tempatnya dengan wajah lesu, seolah seluruh semangatnya ikut hanyut bersama hujan di luar. Tilililililit! Tilililililit! Suara ponsel yang berdering dari atas meja dekat pintu memotong keheningan. Mila langsung bangkit dan berlari kecil mengambilnya. Saat melihat layar, matanya langsung berbinar. “Riyan!” ucapnya, nyaris berseru, lalu cepat-cepat menekan tombol hijau. “Halo, Riyan!” lanjut
Ting! Lift terbuka di lantai lima. Mila keluar dan menatap bingung ke deretan ruangan yang tersedia: Forge Room, Arena Orion, Arsenal. "Hmm… kemana dulu, ya?" Ia bingung karena semuanya tempat untuk melatih fisik. Iapun memilih Forge Room, tempat penuh alat gym. Setelah pemanasan, ia lalu mulai lari di treadmill. Meski tanpa peningkatan kekuatannya, Mila masih sanggup berlari nonstop selama setengah jam. Ting! Beberapa saat kemudian, lift kembali terbuka. Pak Roger dan Talita tiba. "Nah, ini pusat latihan fisik," jelas Pak Roger. "Ada gym, arena kelincahan, sama Arsenal buat latihan senjata." "Ohh..." Talita mengangguk. "Berarti Mila ada di sini? Tadi di lapangan gak kelihatan." "Kayaknya sih iya. Yuk, kita lihat." Pak Roger membuka pintu Forge Room.
Waktu terus berjalan, siang hari yang panas akhirnya datang. Pak Roger keluar dari toilet dan berjalan kembali menuju kamar Talita. Namun di tengah jalan, Mila menghentikan langkahnya. “Loh, Mila? Mau ke mana?” tanyanya heran. Mila menatap serius. “Pak, ada yang mau saya bicarakan. Tapi... bisa di luar aja?” Pak Roger penasaran, ekspresi Mila tidak biasanya seperti ini. Tapi ia hanya mengangguk dan mengikuti Mila. Mereka pun turun ke lantai satu, jauh dari tempat yang lain. Di halaman rumah sakit yang cukup ramai, Pak Roger membuka pembicaraan. “Udah jauh, nih. Kamu mau ngomong apa? Kok kayak rahasia banget?” Mila menunduk, matanya menatap tanah. Ia berpikir sejenak, lalu menatap Pak Roger penuh tekad. “Tes buat saya... mau dilaksanakan kapan, Pak?” “Tes? Oh, maksudmu tes masuk tim khusus? Ya tinggal nunggu kamu siap aja, sih.” jawab Pak Roger santai. Mila terlihat kecewa. “Kalau gitu bisa lama, dong. Saya mau latihan, tapi saya juga tetap harus jaga Riyan...”
Beberapa hari berselang, kondisi Riyan dinyatakan membaik. Luka di dadanya sudah tidak terlalu sakit, dan kini ia sudah bisa bergerak normal seperti sedia kala. Pagi itu, Pak Roger tampak mengetuk pintu kamar tempat Riyan dirawat. “Masuk!”
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah empat, Mila pergi ke depan rumah sakit untuk menjemput Bu Cantika yang ingin mengecek keadaan anaknya. Sementara itu, Riyan hanya bisa diam di kasur. Ia memandang sekeliling dengan perasaan tidak nyaman. Ia merasa bosan padaha
Gelap…Udara terasa hening. Sunyi...Riyan terbangun di tengah ruang kosong tak berbatas. Air menggenang membentuk lantai, namun aneh tubuhnya tidak basah sedikit pun. Ia perlahan bangkit dari tidurnya."Hmmm, tempat ini lagi." gumamnya.Suara langkah datang menggema. Membawa kabut tipis bersamanya
Sementara itu, tubuh Riyan masih tergeletak di sisi lain jembatan. *Riyan! Woy! Bangun!* teriak Ariel dalam hati. Namun tak ada respon. Tubuh Riyan dikerubungi beast yang hendak memisahkan Ariel darinya. Salah satu beast mencengkeram tubuhnya, siap membel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.