Beberapa hari berselang, kondisi Riyan dinyatakan membaik. Luka di dadanya sudah tidak terlalu sakit, dan kini ia sudah bisa bergerak normal seperti sedia kala. Pagi itu, Pak Roger tampak mengetuk pintu kamar tempat Riyan dirawat. “Masuk!” Terdengar suara Mila dari dalam kamar. Itu artinya Mila sedang berada di sana, mungkin ia diminta untuk menjaga Riyan. Pintu dibuka. Pak Roger masuk ke dalam dan langsung disambut. “Pagi, Pak!” sapa Mila dan Luna dari kursi di sudut ruangan. “Pagi, Mila, Luna—eh, Luna?” Pak Roger mengangkat alis, kaget melihat Luna duduk santai di samping Mila. “I-ini kamar Riyan, kan?” tanyanya heran sambil melongok ke sekeliling, mencari sosok yang ingin ia kunjungi. “Tuh kan, Luna, sampai Pak Roger bingung,” celetuk Mila. Luna hanya terkekeh kecil.
Read more