Jonathan membimbing Gea palsu, yang sebenarnya adalah Selly dalam penyamaran yang licik, menuju sebuah meja kecil yang telah disiapkan secara khusus di taman yang sunyi. Langit malam itu disulam bintang, tetapi fokus utama adalah puluhan lampion kertas yang diterbangkan ke udara. Mereka melayang perlahan, membawa harapan dan cahaya, menciptakan pemandangan yang sureal dan amat romantis—sebuah kontras tajam dengan badai emosi yang bergejolak di hati Selly."Ayo duduk, kita makan bersama di malam yang indah ini," suara Jonathan terdengar dalam dan stabil, namun sedikit ragu. Ia menarik kursi untuk "Gea" dengan gerakan seorang pria sejati, sebuah kesopanan yang terasa tulus. "Saya nggak bisa berkata manis, karena saya pria dewasa, kamu harap memaklumi hal itu." Ia menatapnya, mata coklat gelapnya mencari validasi, sebuah kebiasaan lama yang sulit hilang—selalu berterus terang, terkadang terlalu jujur, bahkan di momen paling lembut sekalipun.Selly, berjuang untuk mempertahankan fasad ket
Magbasa pa