“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini. Lucu, ya. Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan. Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin. “Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan. Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia? Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama s
Última actualización : 2025-10-02 Leer más