Bukan Aku Orangnya

Bukan Aku Orangnya

last update최신 업데이트 : 2025-12-12
에:  Zhifran jhoiz연재 중
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 평가. 1 리뷰
5챕터
13조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

      Aku tidak pernah menyangka akan berada di titik ini. Menikah dan menjalani rumah tangga tanpa adanya rasa cinta di dalamnya. Pernikahan yang kujalani karena dijodohkan oleh wanita yang katanya melahirkanku. Wanita yang selalu memperlakukanku layaknya robot dan dia yang memegang kendalinya.  Seperti aku yang masih berusaha melepas rasa untuk seseorang yang sekarang entah dimana,  begitu juga dengan Mas Zayn, suamiku, yang tak pernah kurasakan kehangatan cintanya. Awalnya kukira, aku tidak merasakan cinta itu karena hatiku yang masih dibelenggu masa lalu. Namun, ternyata aku salah. Aku tidak merasakan cinta itu bukan karena diriku, melainkan karena memang dia tidak mencintaiku.  Malam itu aku mendapati Mas Zayn  menangis sambil memandangi sebuah foto yang aku tak tau itu siapa. Hingga aku bertekad mencari tahu segalanya. Satu persatu kenyataan mulai terungkap, dan aku sempat menyalahkan diri sendiri. Ada keinginan untuk menyerah, tetapi …apa dayaku? Aku tak bisa mengambil keputusan besar itu, jika dia si Pemegang Remot tak memberi izin untuk robotnya ini. Rasa panas menjalar di pipiku ketika lima jari mendarat indah di sana. Gesekannya meninggalkan bekas merah, sama persis dengan apa yang dulu kurasakan setiap kali menyebutkan keinginanku. “Jangan bikin malu keluarga!” Teriaknya kala itu. “Kamu kira menjadi janda itu menyenangkan? Kalau kamu cerai sama Zayn, siapa yang bakal membiayai kehidupan kita, ha? Siapa yang akan membiayai kuliah dan sekolah adik-adikmu?” Tatapannya nyalang, mengunci pergerakanku. Dadanya naik turun bersamaan dengan mengetatnya rahang membuat nyaliku ciut seketika. Dia, wanita yang kupanggil Ibu itu tak pernah berubah, dan aku tahu seperti apapun aku berusaha baginya aku tak seberharga itu. Aku tak akan diberi celah sedikit pun. Lalu aku harus apa? Bertahan membuatku semakin terluka. Tuhan … sebegitu buruknya kah aku, sampai aku tak pernah layak dicintai? Aku hanya ingin bahagia, meski tak ada yang menaruh cintanya untukku. Apa itu mungkin?

더 보기

1화

Bab 1. Bukan Mesin Pencetak Uang

“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini.

Lucu, ya.

Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan.

Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin.

“Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan.

Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia?

Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama sekali, selain uang nafkah yang selalu dia berikan tepat waktu.

Lagian sejak kami menikah memang polanya selalu seperti ini. Dia akan di rumah selama seminggu dan akan keluar kota selama seminggu. Sangat jarang sekali dia berada di rumah lebih dari seminggu. Terlebih jika ada masalah di perusahaan cabang itu, maka dia bisa di sana berminggu-minggu, atau bahkan lebih dari sebulan.

“Iya, kenapa?”

“Nggak … nggak papa. Cuma memastikan aja,” jawabku singkat yang hanya direspon dengan anggukan.

Kulirik wajah putra semata wayang kami yang masih terlelap dalam pangkuan. Putra yang sejak awal seolah tak pernah dianggap keberadaannya oleh Mas Zayn. Bahkan kelahirannya pun tak disambut oleh suara azan dari Mas Zayn.

Masih kuingat pagi itu aku merasakan sakitnya kontraksi, tetapi Mas Zayn lebih memilih berangkat keluar kota yang katanya demi pekerjaan. Aku ke rumah sakit sendirian menggunakan taxi. Berkali-kali dokter menanyakan suamiku, tetapi yang ditanya tak pernah datang. Aku sampai meminta bantuan dokter untuk mengadzani putraku sendiri.

Aku mendongak, mengusir rasa panas pada bola mata. Berharap cairan bening itu tidak tumpah. Entah kenapa, kalau mengingat kejadian itu aku selalu kembali merasakan sakitnya.

Kopi hitam miliknya telah tandas. Hanya menyisakan ampas yang tak kan pernah lagi dia sentuh. Menandakan kalau dia sudah siap untuk pergi.

“Mas berangkat dulu.” Dia bangkit dari duduknya. “Kamu jangan lupa siapkan semua keperluan Mas selama di sana!” Dia berlalu begitu saja setelah mengucapkan kalimat terakhir. Tak peduli dengan jawaban yang belum sempat kuberikan.

Jujur aku lelah dengan keadaan ini. Ingin menyerah saja rasanya, tetapi hati kecil ini masih percaya dengan apa yang dulu pernah dikatakan Ibu. “Jika kamu sudah punya anak nanti, maka perlahan cinta akan hadir di antara kalian.”

Aku tidak tahu kalimat itu sebenarnya hanyalah pemanis untuk menutupi tujuan wanita yang kupanggil Ibu itu atau tidak. Hanya saja aku mulai menaruh sedikit harapan sejak putraku lahir ke dunia. Lagi pula, keluargaku terutama Ibu dulu sudah mewanti-wanti agar pernikahan ini tidak kandas begitu saja. Walaupun aku sendiri masih ragu akankah ada cinta yang Ibu sebutkan itu hadir di antara kami.

“Hm … Mas!” Kuberanikan diri untuk bicara tepat saat dia telah berada di ambang pintu. Selangkah lagi maka dia akan menghilang bersama tertutupnya pintu selamat datang di rumah kami itu.

“Apa?” tanyanya saat berbalik. Aku rasa dia jengkel. Terlihat jelas dari cara dia menarik nafas berat.

“Apa jam 10.00 nanti kamu bisa menemaniku? Hari ini ada posyandu, dan imunisasinya Gavin,” ucapku ragu-ragu.

“Kamu pergi sendiri saja.” Dia melirik ke arah Gavin yang berada dalam gendonganku. “Aku banyak kerjaan.”

“Baiklah.” Sekuat tenaga aku berusaha menahan gemuruh di dalam sana. Menyingkirkan semua amarah dan kekesalan yang hanya akan menimbulkan pertengkaran panjang. Pertengkaran yang sudah pasti menguras energi.

Sebenarnya aku tidak begitu butuh untuk diantar. Aku hanya ingin dia bisa meluangkan waktunya untuk Gavin. Memperhatikan tumbuh kembang anaknya, juga membantu menjaga Gavin saat suntik imunisasi. Karena aku selalu takut setiap kali harus melihat jarum suntik menembus kulit putraku.

Deru mesin mobil mengantarkan dia menjauh dari hunian kami. Meninggalkan aku dan Gavin yang terjaga saat mendengar Mas Zayn menutup pintu rumah dengan cukup keras.

Hampir satu jam sejak kepergian Mas Zayn, dan Gavin masih saja rewel. Putraku sama sekali tak mau lepas dari gendongan. “Duh … Nak, tenang, ya!” Kudekap lembut tubuh mungilnya. “Bunda masih banyak kerjaan Sayang, kita kan mau ke posyandu,” ucapku dengan suara serak.

Pandanganku kini telah berkabut, tertutup oleh cairan-cairan bening yang berjatuhan begitu saja. Otakku begitu berisik memikirkan semua pekerjaan rumah yang belum beres. Belum lagi memikirkan reaksi Mas Zayn nanti jika saat dia pulang rumah masih berantakan.

“Tenang Ale! Ini masih pagi, kamu masih punya banyak waktu,” monologku, mencoba menenangkan diri.

Aku belajar menenangkan diriku dulu, agar Gavin juga bisa lebih tenang. Beruntung hal ini berhasil. Gavin sekarang sudah tidak rewel dalam pangkuanku sambil kuberi ASI.

Sesekali kuciumi telapak tangan Gavin. Memperhatikan setiap detail kecil di wajahnya. Kesunyian ini perlahan memberikan kenyamanan untukku. Sayang itu tidak berlangsung lama. Suara notifikasi dari ponselku terdengar, dan itu mengganggu fokusku.

Kuraih ponsel itu dengan tangan kanan, dan memperhatikan pesan yang masuk secara perlahan. Degup jantungku memburu seketika saat membaca pesan dari laki-laki yang satu jam lalu meninggalkan rumah, Mas Zayn.

Untuk sesaat kututup mata, berharap aku salah lihat. Namun, ternyata aku tidak salah sedikit pun. Pesan itu jelas tertulis, “Bilang pada ibumu untuk belajar membiayai hidupnya dan anak-anaknya sendiri. Jangan bisanya cuma jadi benalu!”

Jemariku gemetar. Tubuhku seolah lemah, kehilangan tulang untuk menyangga. “Bu … apa lagi yang Ibu lakukan?” Aku bicara pada ruang hampa dalam sepi.

Belum sempat aku mencerna sepenuhnya maksud kalimat Mas Zayn, ponsel dalam genggaman kembali bergetar, dan ini pesan ke dua darinya.

“Aku bukan mesin pencetak uang bagi keluarga kalian!”

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

리뷰

Zhifran jhoiz
Zhifran jhoiz
hi semua, jangan lupa tinggalin jejaknya, ya!
2026-02-05 20:55:30
0
0
5 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status