LOGINKusandarkan diri pada sandaran kursi dengan Gavin berada dalam gendongan. Riuh hujan di luar sana tak mampu memberiku ketenangan. Setelah berulang kali kuyakinkan diri untuk tidak berlari keluar, kini kepalaku semakin bising oleh berbagai hal yang melelahkan.
Berbagai goresan diciptakan telunjukku pada jendela kaca saat embun terbentuk di sana. Jika orang lain lelah oleh semua aktivitas fisik yang dia lakukan, maka aku berbeda. Lelah ini bukan lagi tentang hal fisik yang kujalani. Sungguh, tubuh ini jauh lebih lelah ketika berkutat dengan semua isi kepala. Ah … entah kapan semua ini bisa berakhir. Aku telah sangat kewalahan menjalaninya. “Mereka siapa, Mas?” Pertanyaan yang lolos setelah berulang kali aku berusaha membuka kunci ponsel Mas Zayn, hingga akhirnya berhasil. Aku tidak bertanya dengan nada tinggi, layaknya istri sah memergoki pengkhianatan suaminya. Aku berusaha setenang mungkin, menahan diri agar emosi ini tidak meledakkan tangis. “Bukankah dari awal sudah kukatakan!” Mas Zayn merenggut paksa ponselnya dari genggamanku. “Jangan mencampuri apa yang bukan menjadi urusanmu!” Mata hitam legamnya menatapku nyalang. Aku tersenyum sinis. Baru mengerti kenapa dari awal dia selalu menegaskan bahwa kami tidak boleh ikut campur dengan urusan masing-masing. Namun, kali ini aku merasa harus ikut campur, karena ada hal besar yang telah dia langgar. “Aku tidak akan ikut campur jika kamu tidak melangkah sejauh ini,” ucapku dengan nada bergetar. Jujur rasanya begitu sesak, seolah ada batu besar yang menghujam di dalam sana. “Lalu sekarang kamu mau apa?” Dia bertanya, kini dengan nada yang lebih lunak. “Jelaskan! Siapa mereka?” Aku menunjuk ponsel yang dia genggam. “Oke.” Dia menghirup nafas dalam, seraya menatap foto itu. Kemudian kembali menatapku dan, “tapi tolong berjanjilah jangan beritahu Mama dulu. Biar aku yang memberitahunya.” “Jelaskan sekarang, atau aku telpon Mama sekarang?” aku masih berusaha untuk menormalkan nafas yang mulai memburu. “Janji dulu ….” “Iya, aku janji.” “Mereka adalah istri dan anakku.” Dia bicara dengan kepala tertunduk. “Maaf.” Suara gemuruh di luar sana tak mampu mengalahkan gemuruh dalam dadaku. Kalimat itu bagai kilat yang menyambar. Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan ini. Ah ... hujan ini juga, kenapa begitu mendukung suasana, sih? Kenapa harus begitu awet? Padahal aku bukanlah mereka yang menyukai rintiknya. Bagiku kilatan dan gemuruh adalah hal yang terlalu kejam. Ya ... walaupun aku menyukai aroma yabg dia ciptakan setelah mengguyur bumi. Tawa sumbang tercipta. Menertawakan nasib yang masih saja tak pernah berpihak. Diiringi bulir-bulir bening yang perlahan turun bak hujan badai menyapu segala yang menghadang di depan. “Sejak kapan, Mas?” tanyaku, “sejak kapan kamu mengkhianati pernikahan kita?” “Aku tidak mengkhianati pernikahan kita.” Dia berusaha mendekat. Mengulurkan tangan seolah dialah orang yang paling memahami sakitku saat ini, padahal dia adalah penyebabnya. “Tetap di sana!” Aku melangkah mundur. “Al … aku menikahinya satu minggu sebelum pernikahan kita. Kami menikah secara siri tanpa sepengetahuan almarhum papa dan Mama.” Kuhempaskan nafas kasar. Lengkap sudah. "Jadi ini alasanmu selalu keluar kota? Dan itu alasanmu tidak pernah ada di rumah setiap akhir pekan?" tanyaku. Padahal aku sudah tahu jawabannya. "I-iya, maaf!" Dia menatapmu sendu. "Aku hanya belajar untuk adil, karena kalian sama-sama istriku." Adil? Apa arti adil itu baginya sebenarnya? Satu lagi, ternyata ini alasannya tak pernah memberiku ruang selama ini. “Lalu apa maumu sekarang, Mas?” Kuhapus kasar air mata yang masih saja enggan untuk berhenti. "Kenapa kamu menerima perjodohan itu, jika kamu sudah menikah dengannya?" Aku menggeleng pelan. "Apa bagimu pernikahan adalah hal yang bisa dipermainkan?" “Aku … mencintainya, Al.” Sejenak kepalanya tertunduk tatkala kalimat menyakitkan itu terucap. "Saat itu Mama dan Papa tidak merestui hubungan kami," ucapnya lirih. Kupejampakan mata. Mengusir sesak yang semakin menerpa. “Oh .. aku pahan sekarang. Kenapa selama ini ….” Aku tersenyum getir. Tak mampu melanjutkan kalimat yang menggantung. “Ya, aku mengerti ternyata bukan aku orangnya. Bukan aku wanita yang kau cintai. Meski sekuat apapun aku berusaha untuk jadi istri yang baik, tetap saja aku tak akan menjadi pemilik tahta itu.” “Bukankah kita sama. Kamu ... Hanya menjalani hidup denganku karena terikat pernikahan, bukan? Sementata hatimu ….” Dia menghempaskan pantatnya pada pinggiran ranjang kamar kami. “Jangan kira aku tidak tahu bagaimana hatimu terpaut dengannya.” “Jangan melempar kesalahanmu padaku!” Aku meletakkan Gavin di kasur. Kemudian mulai mengemasi pakaianku. “Aku tidak sepertimu!” ucapku. “Apa yang mau kamu lakukan?” tangannya berhasil menahan pergerakanku. “Ceraikan aku, Mas!” pintaku. Aku tak ingin ada perdebatan panjang lagi. “Kamu boleh hidup dengan wanita itu, tapi ceraikan aku!” Kulepaskan genggamannya pada pergelangan tangan. Jujur kali ini aku tak lagi sanggup menahan diri.Kusandarkan diri pada sandaran kursi dengan Gavin berada dalam gendongan. Riuh hujan di luar sana tak mampu memberiku ketenangan. Setelah berulang kali kuyakinkan diri untuk tidak berlari keluar, kini kepalaku semakin bising oleh berbagai hal yang melelahkan. Berbagai goresan diciptakan telunjukku pada jendela kaca saat embun terbentuk di sana. Jika orang lain lelah oleh semua aktivitas fisik yang dia lakukan, maka aku berbeda. Lelah ini bukan lagi tentang hal fisik yang kujalani. Sungguh, tubuh ini jauh lebih lelah ketika berkutat dengan semua isi kepala. Ah … entah kapan semua ini bisa berakhir. Aku telah sangat kewalahan menjalaninya. “Mereka siapa, Mas?” Pertanyaan yang lolos setelah berulang kali aku berusaha membuka kunci ponsel Mas Zayn, hingga akhirnya berhasil. Aku tidak bertanya dengan nada tinggi, layaknya istri sah memergoki pengkhianatan suaminya. Aku berusaha setenang mungkin, menahan diri agar emosi ini tidak meledakkan tangis. “Bukankah dari awal sudah kukatak
“Makan malam sudah kusiapkan.” Aku bicara tanpa menatap lelaki yang sudah 3 hari ini tidak bicara padaku sama sekali. Sama seperti dia, aku pun enggan untuk memulai obrolan dengannya lebih dulu. Ya, kalau orang zaman sekarang bilang silent treatment, dan itulah yang terjadi antara kami. Hanya sesekali aku bicara dan itu pun cuma hal-hal penting, layaknya saat ini ketika dia baru pulang dengan wajah kusut tak karuan.“Hm.” Cuma gumam itu yang keluar, dan tungkainya melangkah menaiki anak tangga. Aku tahu dia pasti menuju kamar kami. Tempat dimana Gavin sedang terlelap. Sepertinya dia nggak bakalan makan malam lagi kali ini. Sama seperti malam sebelumnya sejak Mama pulang. Dia … tak pernah makan di rumah ini.Aku ingin tak menghiraukannya, sama seperti dia yang gak menghiraukanku. Namun, hati ini masih saja merasa bertanggung jawab atas semua keperluannya. Aku tak punya kemampuan untuk seacuh itu.Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi saat aku memasuki kamar. Di sana aku
“Besok pagi aku harus tetap berangkat ke luar kota.” Sunyi yang memenuhi setiap sudut kamar, pecah oleh suara berat dari Mas Zayn. Pandangannya tertuju pada Gavin yang terlelap dalam pangkuanku. “Lagipula, demam Gavin udah mulai turun.” Dia melirik sekilas ke arah Gavin.Aku hanya diam. Memperhatikan putra semata wayangku yang terlelap dalam pangkuan. Panasnya memang sudah turun, tetapi dia nggak bisa lepas dari gendongan. Tak dipungkiri, tubuhku rasanya mau remuk. Dari tadi tak sedikit pun Mas Zayn berniat untuk menggantikanku menggendong Gavin. Sementara mama mertuaku sudah terlelap sejak pembicaraannya dengan Mas Zayn berakhir setelah makan malam.Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah Mama yang nampak kesal, dan Mas Zayn yang sepertinya tertekan bisa ku simpulkan kalau itu bukan pembicaraan biasa. Sempat sih, Mama menggendong Gavin sebentar, cuma … aku nggak tega aja membiarkannya terlalu lama. “Tolong besok pagi kamu bantu bicara sama Mama!” Mas Zayn kembali
Sore datang menyapa menandakan satu lagi hari yang berat berhasil kulalui. Mengurus semuanya sendirian cukup menguras energi dan mentalku. Syukurnya aku masih bisa melaluinya meski dengan tertatih. Sebenarnya bukan cuma menyelesaikan pekerjaan sebagai Ijah dan mengurus Gavin yang membuatku lelah. Lebih dari itu, ada banyak hal yang bersemayam dalam benakku. Memikirkan Ibu yang sampai sekarang belum sempat kuhubungi. Memikirkan rumah tanggaku yang seolah cuma aku yang menjalani. Belum lagi komentar Ibu-Ibu posyandu tadi saat melihat tubuh mungil putraku tak segembul bayi lainnya. “Mbak, ASI-nya lancar kan?” “Mungkin ASI Mbak kurang berkualitas, apa Mbak nggak minum suplemen ASI?” “Banyakin makan sayur, Mbak!” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Memberi saran yang aku sendiri sudah jauh lebih dulu lakukan. Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan sua
“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini. Lucu, ya. Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan. Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin. “Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan. Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia? Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama s







