เข้าสู่ระบบ“Besok pagi aku harus tetap berangkat ke luar kota.” Sunyi yang memenuhi setiap sudut kamar, pecah oleh suara berat dari Mas Zayn. Pandangannya tertuju pada Gavin yang terlelap dalam pangkuanku. “Lagipula, demam Gavin udah mulai turun.” Dia melirik sekilas ke arah Gavin.
Aku hanya diam. Memperhatikan putra semata wayangku yang terlelap dalam pangkuan. Panasnya memang sudah turun, tetapi dia nggak bisa lepas dari gendongan. Tak dipungkiri, tubuhku rasanya mau remuk. Dari tadi tak sedikit pun Mas Zayn berniat untuk menggantikanku menggendong Gavin. Sementara mama mertuaku sudah terlelap sejak pembicaraannya dengan Mas Zayn berakhir setelah makan malam. Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah Mama yang nampak kesal, dan Mas Zayn yang sepertinya tertekan bisa ku simpulkan kalau itu bukan pembicaraan biasa. Sempat sih, Mama menggendong Gavin sebentar, cuma … aku nggak tega aja membiarkannya terlalu lama. “Tolong besok pagi kamu bantu bicara sama Mama!” Mas Zayn kembali bicara. Kuangkat wajah, menatapnya yang duduk tepat di meja kerja. “Maaf, Mas. Aku nggak bisa.” “Kamu itu gimana, sih?” Mata elangnya menatapku, tajam. “Kamu mau pekerjaanku hancur, gara-gara anak kamu itu?” Suaranya penuh penekanan. Genggamannya pada benda pipih itu tampak semakin erat. Hatiku semakin perih mendengar setiap kata yang dia lontarkan. Tubuhku sudah lelah dan semakin dibuat lelah oleh sikap dan caranya memperlakukanku dan Gavin. Tuhan, tak bisakah sebentar saja aku bernafas dengan tenang? Sungguh semua kejadian hari ini membuatku kehilangan sisi kuatku. Hidup berjalan tanpa kehendakku. Aku bagai dipaksa menggendong beban tanpa tau kata henti. Ragaku seakan lunglai, sedangkan jiwaku tenggelam di dasar jurang paling dalam. “Ale!” Bentakannya membuatku terperanjat. “Kamu dengar, nggak?” “Bukankah dari awal aku tidak boleh ikut campur semua urusanmu. Jadi, aku hanya akan tetap berada di zonaku.” Kuhirup nafas dalam, meredakan gemuruh yang tertahan. “Pekerjaanmu, itu urusanmu. Oh … iya, satu lagi. Gavin ini bukan cuma anakku, tapi anak kita berdua.” Dia tersenyum sinis. Senyuman yang aku yakin mengandung misteri di dalamnya. “Yakin?” “Maksud kamu apa?” Aku mengernyitkan dahi, tak begitu mengerti dengan pertanyaan yang dia lontarkan. Sayangnya, tak ada jawaban yang dia berikan. Dengan langkah angkuh dia berjalan keluar. Meninggalkanku yang tak tahu kapan bisa beristirahat walau hanya sesaat. *** 04.15 pagi. Mata ini menangkap pergerakan jarum jam saat kelopaknya terbuka pelan. Tadinya aku kira bakalan bisa tidur nyenyak untuk 3 atau 4 jam ke depan. Nyatanya baru 2 jam sejak Gavin terlelap aku sudah kembali merasakan bahwa malam telah berakhir, dan tubuh ini seolah bicara kalau sekarang bukan lagi waktunya untuk tidur. Dengan begitu perlahan kuletakkan Gavin di ranjang, karena dari semalam aku tidur masih dalam posisi duduk dan Gavin dalam gendongan. Panas akibat demam yang putraku derita semalam tak lagi terasa. Sekilas kulirik Mas Zayn yang masih lelap di sofa kamar kami. “loh, Ale … kamu sudah bangun, Nak?” Suara itu terdengar saat kaki ini menginjak lantai dapur. Dadaku tiba-tiba dihantam rasa bersalah dan ketakutan saat melihat Mama di sana telah sibuk dengan peralatan masak. Mungkin menurut sebagian orang apa yang aku rasakan ini begitu lebay, tetapi inilah kenyataannya. Dari kecil setiap kali bangun saat Ibu sudah sibuk di dapur adalah sebuah kesalahan besar bagiku, dan terkadang rasa bersalah dan ketakutan itu masih sering muncul. “Maaf, Ma! Aku ketiduran.” Alih-alih menjawab pertanyaan Mama, aku malah langsung meminta maaf. Aku tak siap jika tiba-tiba melihat tatapan masam yang mungkin saja bisa terjadi. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut. Tak ada hal yang kutakutkan terpancar di wajahnya. “Nggak papa, Nak.” Dia kembali menata cangkir dalam genggamannya. Mengisi benda itu dengan bubuk yang akhir-akhir ini sering kuminum. “Semalam kamu pasti begadang, kan. Jadi wajar kalau kamu bangunnya kesiangan. Ingat kamu itu juga manusia, jadi berhak untuk bisa istirahat dan merasakan lelah,” ucapnya. Cangkir itu berpindah ke tanganku setelah isinya Mama aduk dengan sempurna. “Makasih, Ma.” Aku tersenyum. Rasa haru menyelimuti diri ini, seolah aku menemukan seseorang yang bisa mengerti tentang sakitku. Waktu kami habiskan dengan bercengkrama di dapur, seraya menyiapkan sarapan yang akan kami santap pagi ini. Sampai Mas Zayn datang merusak suasana dengan wajah kesalnya. “Kenapa nggak ada yang bangunin aku, sih?” tanyanya ketus. Dia bicara sambil turus merapikan lengan kemeja. Sekilas tatapan tajam itu terarah padaku, sebelum kembali sibuk dengan lengan kemeja yang aku tahu dia selalu sulit merapikan gulungannya. Dulu aku selalu berusaha membantunya untuk itu, tetapi semenjak Gavin lahir aku mulai menahan diri untuk tidak lagi memberinya perhatian lebih dari apa yang dia berikan padaku. “Memangnya kamu mau kemana buru-buru kayak gitu?” Mas Zayn menarik nafas dalam“Ma, kita sudah bicarakan ini semalam, kan,” ucapnya dengan nada yang masih terkontrol. “Iya, dan dari semalam sampai sekarang Mama tetap tidak setuju kamu berangkat sekarang.” Mama bicara penuh penekanan. Aku tahu kalau sudah begini itu tandanya tak ada yang bisa membantah ucapan, Mama. Pembicaraan mereka cukup menarik bagiku, tetapi bukan berarti aku akan ikut campur di dalamnya. Meski sesekali kulihat Mas Zayn melirikku, bahkan memberi kode yang aku paham betul maksudnya apa, tetapi itu bukan berarti aku akan menuruti apa yang dia mau. “Tapi, Ma ….” “Nggak Zayn.” Suara Mama sedikit meninggi. “Kamu lupa dengan apa yang dulu almarhum papa sama Mama minta? Ingat kamu itu seorang ayah sekaligus suami. Ini weekend dan keluargamu tidak cuma membutuhkan uangmu,” ucap Mama tegas. Mas Zayn kali ini hanya diam, tak lagi bicara walaupun wajahnya nampak gelisah. Entah kenapa ada kesenangan tersendiri bagiku melihat apa yang terjadi pagi ini. Setidaknya aku bisa menyaksikan Mas Zayn yang selalu tampil angkuh kini tak berkutik. “lagipula Mama sudah suruh Pak Burhan untuk mengurus semua pekerjaanmu di sana selama seminggu ke depan. Jadi bulan ini kamu nggak perlu ke luar kota.” Nada suara Mama kembali lembut. Kelembutan itu sama sekali tak memberikan kenyamanan bagi suamiku. Kopi yang berada di mulutnya berhasil membuatnya tersedak. Wajahnya semakin gelisah. “Kenapa Mama nggak bicarakan hal ini sama aku dulu?” “Loh … ini perusahaan Mama, terus kenapa Mama harus bertanya sama kamu?” Mama bicara dengan dahi berkerut. “Iya tapi, Ma ….” “Nggak ada tapi-tapian, pokoknya bulan ini kamu harus fokus sama anak dan istrimu. Kalau perlu kamu ambil cuti.” Mas Zayn membelalakkan matanya. Dia meninggalkan meja makan begitu saja, dan kembali ke kamar kami. “Ma, aku nggak papa kok kalau memang Mas Zayn harus mengurus perusahaan cabang di sana,” ucapku pelan. Sungguh aku juga tak enak hati kalau seperti ini, karena aku tahu sebentar lagi pasti aku yang akan jadi tempat pelampiasan kekesalan Mas Zayn. “Udah, nggak papa Nak. Zayn itu memang harus ditegasin. Dia dari ….” “Ma, aku tinggal dulu, ya. Gavin nangis.” Aku memotong ucapan Mama saat suara tangisan Gavin terdengar. “Sudah biarkan Zayn yang mengurus Gavin dulu.” Mama menahan tanganku yang hendak bangkit. “Kamu selesaikan aja makannya.” Jujur hati ini berat, tetapi aku mengikuti perkataan Mama. Kulanjutkan makanku dengan perasaan yang sebenarnya nggak tenang. Sampai akhirnya kutinggalkan piring yang masih berisi nasi goreng buatan Mama. “Aku kenyang, Ma,” ucaku sambil bangkit. Aku tak bisa diam saja mendengar tangisan Gavin, karena aku tahu Mas Zayn nggak akan mungkin bisa dan mau menenangkan anak kami. “Anakmu tu, nangis terus!” Mas Zayn bicara saat aku baru memasuki kamar kami. Kubawa Gavin dalam gendongan. Memberinya ASI berharap dia bisa tenang. “Harus berapa kali aku bilang, sih, Mas?” Amarahku sudah lebih dulu memuncak saat melihat Gavin menangis dan Mas Zayn hanya acuh tak acuh. Kutatap wajah lelaki yang jadi suamiku itu dengan nyalang, meski bulir bening juga tak mampu kucegah. “Gavin ini bukan cuma anakku, tapi juga anak kamu, Mas! Anak kita berdua!” sentakku, tetapi masih dengan nada yang terkontrol. Biar bagaimanapun, aku nggak mau Mama mendengar pertengkaran kami. “Apa? Anakku?” Mas Zayn tersenyum sinis. “Aku nggak salah dengar? Kamu yakin ada darahku yang mengalir di tubuhnya?” Gavin menggeliat, melepaskan sumber makanannya yang ada pada tubuhku. Kesempatan ini kugunakan dengan sebaik mungkin. Aku nggak tahu entah keberanian dari mana yang membuatku melayangkan cap lima jari di pipi Mas Zayn. “Apa maksudmu bicara seperti itu, Mas?” Lelaki itu memegangi pipinya, senyuman sinis tak lepas dari wajahnya. “Kamu pikir aja sendiri, apa yang kamu lakukan di belakangku!” “Kamu ….” Aku terhenyak. Tak mampu berkata-kata. Ingin kumenuntaskan semua ini segera, tetapi tangis Gavin kembali terdengar, seolah meminta kami menghentikan pertengkaran ini.Kusandarkan diri pada sandaran kursi dengan Gavin berada dalam gendongan. Riuh hujan di luar sana tak mampu memberiku ketenangan. Setelah berulang kali kuyakinkan diri untuk tidak berlari keluar, kini kepalaku semakin bising oleh berbagai hal yang melelahkan. Berbagai goresan diciptakan telunjukku pada jendela kaca saat embun terbentuk di sana. Jika orang lain lelah oleh semua aktivitas fisik yang dia lakukan, maka aku berbeda. Lelah ini bukan lagi tentang hal fisik yang kujalani. Sungguh, tubuh ini jauh lebih lelah ketika berkutat dengan semua isi kepala. Ah … entah kapan semua ini bisa berakhir. Aku telah sangat kewalahan menjalaninya. “Mereka siapa, Mas?” Pertanyaan yang lolos setelah berulang kali aku berusaha membuka kunci ponsel Mas Zayn, hingga akhirnya berhasil. Aku tidak bertanya dengan nada tinggi, layaknya istri sah memergoki pengkhianatan suaminya. Aku berusaha setenang mungkin, menahan diri agar emosi ini tidak meledakkan tangis. “Bukankah dari awal sudah kukatak
“Makan malam sudah kusiapkan.” Aku bicara tanpa menatap lelaki yang sudah 3 hari ini tidak bicara padaku sama sekali. Sama seperti dia, aku pun enggan untuk memulai obrolan dengannya lebih dulu. Ya, kalau orang zaman sekarang bilang silent treatment, dan itulah yang terjadi antara kami. Hanya sesekali aku bicara dan itu pun cuma hal-hal penting, layaknya saat ini ketika dia baru pulang dengan wajah kusut tak karuan.“Hm.” Cuma gumam itu yang keluar, dan tungkainya melangkah menaiki anak tangga. Aku tahu dia pasti menuju kamar kami. Tempat dimana Gavin sedang terlelap. Sepertinya dia nggak bakalan makan malam lagi kali ini. Sama seperti malam sebelumnya sejak Mama pulang. Dia … tak pernah makan di rumah ini.Aku ingin tak menghiraukannya, sama seperti dia yang gak menghiraukanku. Namun, hati ini masih saja merasa bertanggung jawab atas semua keperluannya. Aku tak punya kemampuan untuk seacuh itu.Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi saat aku memasuki kamar. Di sana aku
“Besok pagi aku harus tetap berangkat ke luar kota.” Sunyi yang memenuhi setiap sudut kamar, pecah oleh suara berat dari Mas Zayn. Pandangannya tertuju pada Gavin yang terlelap dalam pangkuanku. “Lagipula, demam Gavin udah mulai turun.” Dia melirik sekilas ke arah Gavin.Aku hanya diam. Memperhatikan putra semata wayangku yang terlelap dalam pangkuan. Panasnya memang sudah turun, tetapi dia nggak bisa lepas dari gendongan. Tak dipungkiri, tubuhku rasanya mau remuk. Dari tadi tak sedikit pun Mas Zayn berniat untuk menggantikanku menggendong Gavin. Sementara mama mertuaku sudah terlelap sejak pembicaraannya dengan Mas Zayn berakhir setelah makan malam.Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah Mama yang nampak kesal, dan Mas Zayn yang sepertinya tertekan bisa ku simpulkan kalau itu bukan pembicaraan biasa. Sempat sih, Mama menggendong Gavin sebentar, cuma … aku nggak tega aja membiarkannya terlalu lama. “Tolong besok pagi kamu bantu bicara sama Mama!” Mas Zayn kembali
Sore datang menyapa menandakan satu lagi hari yang berat berhasil kulalui. Mengurus semuanya sendirian cukup menguras energi dan mentalku. Syukurnya aku masih bisa melaluinya meski dengan tertatih. Sebenarnya bukan cuma menyelesaikan pekerjaan sebagai Ijah dan mengurus Gavin yang membuatku lelah. Lebih dari itu, ada banyak hal yang bersemayam dalam benakku. Memikirkan Ibu yang sampai sekarang belum sempat kuhubungi. Memikirkan rumah tanggaku yang seolah cuma aku yang menjalani. Belum lagi komentar Ibu-Ibu posyandu tadi saat melihat tubuh mungil putraku tak segembul bayi lainnya. “Mbak, ASI-nya lancar kan?” “Mungkin ASI Mbak kurang berkualitas, apa Mbak nggak minum suplemen ASI?” “Banyakin makan sayur, Mbak!” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Memberi saran yang aku sendiri sudah jauh lebih dulu lakukan. Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan sua
“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini. Lucu, ya. Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan. Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin. “Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan. Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia? Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama s







