เข้าสู่ระบบ“Makan malam sudah kusiapkan.” Aku bicara tanpa menatap lelaki yang sudah 3 hari ini tidak bicara padaku sama sekali.
Sama seperti dia, aku pun enggan untuk memulai obrolan dengannya lebih dulu. Ya, kalau orang zaman sekarang bilang silent treatment, dan itulah yang terjadi antara kami. Hanya sesekali aku bicara dan itu pun cuma hal-hal penting, layaknya saat ini ketika dia baru pulang dengan wajah kusut tak karuan. “Hm.” Cuma gumam itu yang keluar, dan tungkainya melangkah menaiki anak tangga. Aku tahu dia pasti menuju kamar kami. Tempat dimana Gavin sedang terlelap. Sepertinya dia nggak bakalan makan malam lagi kali ini. Sama seperti malam sebelumnya sejak Mama pulang. Dia … tak pernah makan di rumah ini. Aku ingin tak menghiraukannya, sama seperti dia yang gak menghiraukanku. Namun, hati ini masih saja merasa bertanggung jawab atas semua keperluannya. Aku tak punya kemampuan untuk seacuh itu. Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi saat aku memasuki kamar. Di sana aku tak menangkap keberadaan Mas Zayn, sepertinya dia tengah membersihkan diri. Kubaringkan badan di samping Zayn berusaha untuk tidur lebih awal. Menghindari pembicaraan yang mungkin saja bisa memicu pertengkaran. Aku sudah muak harus terus bersitegang dengan lelaki yang masih menjadi suamiku ini. “Ale!” Suara itu memaksaku membuka mata. Dia terlihat lebih segar dengan rambut yang masih basah. Dada bidangnya terekspos tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi. Sementara handuk masih melingkar di pinggangnya, menutupi bagian bawah tubuh hingga lutut. “Ya!” Aku menjawabnya dengan nada malas. Rasa sakit, muak dan entah apa pun itu saat pembicaraan kami terakhir masih membekas setiap kali mendengar suaranya. Beribu pertanyaan muncul dalam benak. Terkadang ada keinginan untuk meminta penjelasan, tetapi sikapnya seolah enggan untuk membahasnya. Dia seperti sengaja membuatku terbelenggu dalam pikiranku sendiri. “Paling lambat lusa Mas harus berangkat ke luar kota.” Handuk yang tadi melingkari pinggangnya kini telah beralih ke kasur. Memaksaku bangkit dan menaruhnya di tempat yang seharusnya. Aku kembali berbaring. Pembicaraan ini sungguh tak menarik sedikit pun bagiku. “Oh.” Responku singkat. Jawabanku berhasil menghentikan aktivitasnya pada helaian hitam di kepala. Suara hair dryer terhenti begitu saja diiringi dengan pandangannya yang tertuju padaku. “Al, tolonglah … berhenti bersikap kekanakan seperti ini!” Ada nada frustasi dari suaranya. Aku tahu dia seperti ini bukan karena rasa sayang, melainkan ada hal yang dia inginkan dariku. Aku menukar posisi, kali ini menatap langit-langit. Berusaha bicara sepelan mungkin agar tidur Gavin tidak terganggu. “Kamu maunya aku bagaimana?” tanyaku dengan alis terangkat. Dia menghirup nafas kasar. Mendaratkan pantat di pinggir ranjang, di sampingku. Aku tahu gelagat ini dan aku sudah sangat hafal, tetapi tak ada niatku untuk memenuhi hasratnya itu. “Al … Mas nggak bisa mempercayakan pekerjaan ini sama Pak Burhan.” Tak ada nada tinggi dari suaranya. Kalian tahu? dugaanku benar. Kini tangannya telah melingkar di pinggangku, dan tentunya berhasil kutepis. “Bukankah aku tidak pernah melarangmu ke sana, Mas?” “Iya, Mas tahu.” Dia kembali berusaha merangkul tubuhku. Tenaga ini kalah jauh untuk menyingkirkan tangannya. “Tapi, tolong bujuk Mama agar Mas bisa pergi!” Hangat hembus nafasnya menerpa tengkukku, diiringi dengan kecupan lembut. Dia tidak hanya sedang berusaha merayuku, tetapi hasratnya yang telah semakin membara dan minta untuk dituntaskan. Jelas terasa di bawah sana ada hal yang membesar dan menggangguku. “Mas, aku lelah.” Kulepaskan tangannya yang mulai menari pada kulit. Menyelinap tanpa permisi. “Jangan sekarang!” Kulirik Gavin yang tertidur di sampingku. “Gavin sedang tidur, jangan membuat dia terganggu!” Setidaknya ini adalah alasan yang tepat, dan kurasa lebih kuat daripada sekedar kata lelah. “Kita ke kamar sebelah!” Dia bangkit, dan tanpa aba-aba tubuh ini terangkat. Aku kini berada dalam pangkuannya. Jangan kalian kira aku cuma pasrah menerima perlakuannya! Aku meronta, berusaha melepaskan diri. Namun, kalian tahu sendiri bagaimana perbandingan tenaga wanita dan laki-laki. Terlebih Mas Zayn memiliki tubuh yang sering dielu-elukan para wanita. “Mas, Gavin ….” “Tenang saja Al, kita bisa memantau Gavin dari sini,” ucapnya menunjukkan layar ponsel yang menyala. Di sana terlihat Gavin tengah pulas. Habis sudah. Semua usahaku sia-sia, dan kini dia berhasil mendapatkan apa yang dia mau. Membuatku harus kembali mandi, karena aku paling nggak suka tidur dalam keadaan lengket. Malam semakin larut, dan netra ini sudah menuntut untuk terpejam. Aku tidak tahu apa-apa sampai suara rengekan Gavin membangunkanku. Sepertinya malaikat kecilku tengah lapar. Tanpa sadar sebuah senyum kecil tercipta di sela-sela kantuk yang mendera. Wajah mungil ini selalu berhasil mengobati lelah yang sering menggerogoti diri. Isapannya yang tak lagi terasa menandakan kalau lambung kecilnya telah terisi. Kembali kubaringkan Gavin, dan berniat untuk tidur. Saat itu juga aku baru menyadari satu hal. Mas Zayn tidak ada di kamar ini. Kemana laki-laki itu malam-malam begini? Jujur, tak ada niatan untuk mencarinya. Karena hal seperti ini sudah sering terjadi. Aku yakin dia sekarang pasti tengah sibuk dengan pekerjaannya, di sebuah ruangan di rumah ini. Rasa haus dan kantuk hadir dalam satu waktu. Membuatku harus memilih untuk menjeput yang mana terlebih dulu. Hingga kaki ini terpaksa melangkah, meninggalkan Gavin hanya untum segelas air yang sempat kulupankan saat sebelum tidur. Perlahan tapi pasti langkahku mulai menjauh, dan tanpa sengaja aku dikejutkan dengan sosok yang tengah duduk dalam kegelapan. Apakah itu hantu? Tidak, dia bukan hantu yang sering muncul di film-film horor. Dia … Mas Zayn, laki-laki yang beberapa jam lalu berbagi keringat denganku, tetapi apa yang dia lakukan di sana? Sesekali kulihat tangannya mengusap pipi, sedangkan tangan yang lain masih memegangi ponsel. Sinar blue light dari ponsel itu cukup untuk menerangi wajahnya, dan memperlihatkan cairan bening yang ada di sana. Dia begitu fokus dengan benda pipih itu sampai tidak menyadari keberadaanku di sini. Pergerakan Mas Zayn cukup membuatku terperanjat. Reflek tubuh ini merunduk, bersbunyi di balik sofa yang tadinya dia duduki. Entah apa yang aku lakukan, aku pun tidak begitu mengerti. Lelaki itu menghilang dari balik pintu, aku rasa dia hendak ke kamar mandi. Karena ketukan langkahnya masih terdengar bahkan saat dia telah berada di dapur. Rasa penasaran mendorongku untuk membuka ponsel yang tadi dai gunakan. Ponsel itu tergeletak begitu saja di atas mena. Diri ini kembali syok, saat kudapati foto yang terpajang di sana. Apa ini yang membuatnya menangis? Darahku berdesir membayangkan apa yang dia sembunyikan dariku. Semua kemungkinan-kemungkinan buruk itu bergentayangan silih berganti. “Al, kamu ngapain di sini?” Jantungku berdegup semakin cepat saat suara itu terdengar.Kusandarkan diri pada sandaran kursi dengan Gavin berada dalam gendongan. Riuh hujan di luar sana tak mampu memberiku ketenangan. Setelah berulang kali kuyakinkan diri untuk tidak berlari keluar, kini kepalaku semakin bising oleh berbagai hal yang melelahkan. Berbagai goresan diciptakan telunjukku pada jendela kaca saat embun terbentuk di sana. Jika orang lain lelah oleh semua aktivitas fisik yang dia lakukan, maka aku berbeda. Lelah ini bukan lagi tentang hal fisik yang kujalani. Sungguh, tubuh ini jauh lebih lelah ketika berkutat dengan semua isi kepala. Ah … entah kapan semua ini bisa berakhir. Aku telah sangat kewalahan menjalaninya. “Mereka siapa, Mas?” Pertanyaan yang lolos setelah berulang kali aku berusaha membuka kunci ponsel Mas Zayn, hingga akhirnya berhasil. Aku tidak bertanya dengan nada tinggi, layaknya istri sah memergoki pengkhianatan suaminya. Aku berusaha setenang mungkin, menahan diri agar emosi ini tidak meledakkan tangis. “Bukankah dari awal sudah kukatak
“Makan malam sudah kusiapkan.” Aku bicara tanpa menatap lelaki yang sudah 3 hari ini tidak bicara padaku sama sekali. Sama seperti dia, aku pun enggan untuk memulai obrolan dengannya lebih dulu. Ya, kalau orang zaman sekarang bilang silent treatment, dan itulah yang terjadi antara kami. Hanya sesekali aku bicara dan itu pun cuma hal-hal penting, layaknya saat ini ketika dia baru pulang dengan wajah kusut tak karuan.“Hm.” Cuma gumam itu yang keluar, dan tungkainya melangkah menaiki anak tangga. Aku tahu dia pasti menuju kamar kami. Tempat dimana Gavin sedang terlelap. Sepertinya dia nggak bakalan makan malam lagi kali ini. Sama seperti malam sebelumnya sejak Mama pulang. Dia … tak pernah makan di rumah ini.Aku ingin tak menghiraukannya, sama seperti dia yang gak menghiraukanku. Namun, hati ini masih saja merasa bertanggung jawab atas semua keperluannya. Aku tak punya kemampuan untuk seacuh itu.Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi saat aku memasuki kamar. Di sana aku
“Besok pagi aku harus tetap berangkat ke luar kota.” Sunyi yang memenuhi setiap sudut kamar, pecah oleh suara berat dari Mas Zayn. Pandangannya tertuju pada Gavin yang terlelap dalam pangkuanku. “Lagipula, demam Gavin udah mulai turun.” Dia melirik sekilas ke arah Gavin.Aku hanya diam. Memperhatikan putra semata wayangku yang terlelap dalam pangkuan. Panasnya memang sudah turun, tetapi dia nggak bisa lepas dari gendongan. Tak dipungkiri, tubuhku rasanya mau remuk. Dari tadi tak sedikit pun Mas Zayn berniat untuk menggantikanku menggendong Gavin. Sementara mama mertuaku sudah terlelap sejak pembicaraannya dengan Mas Zayn berakhir setelah makan malam.Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah Mama yang nampak kesal, dan Mas Zayn yang sepertinya tertekan bisa ku simpulkan kalau itu bukan pembicaraan biasa. Sempat sih, Mama menggendong Gavin sebentar, cuma … aku nggak tega aja membiarkannya terlalu lama. “Tolong besok pagi kamu bantu bicara sama Mama!” Mas Zayn kembali
Sore datang menyapa menandakan satu lagi hari yang berat berhasil kulalui. Mengurus semuanya sendirian cukup menguras energi dan mentalku. Syukurnya aku masih bisa melaluinya meski dengan tertatih. Sebenarnya bukan cuma menyelesaikan pekerjaan sebagai Ijah dan mengurus Gavin yang membuatku lelah. Lebih dari itu, ada banyak hal yang bersemayam dalam benakku. Memikirkan Ibu yang sampai sekarang belum sempat kuhubungi. Memikirkan rumah tanggaku yang seolah cuma aku yang menjalani. Belum lagi komentar Ibu-Ibu posyandu tadi saat melihat tubuh mungil putraku tak segembul bayi lainnya. “Mbak, ASI-nya lancar kan?” “Mungkin ASI Mbak kurang berkualitas, apa Mbak nggak minum suplemen ASI?” “Banyakin makan sayur, Mbak!” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Memberi saran yang aku sendiri sudah jauh lebih dulu lakukan. Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan sua
“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini. Lucu, ya. Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan. Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin. “Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan. Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia? Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama s







