LOGINSore datang menyapa menandakan satu lagi hari yang berat berhasil kulalui. Mengurus semuanya sendirian cukup menguras energi dan mentalku. Syukurnya aku masih bisa melaluinya meski dengan tertatih.
Sebenarnya bukan cuma menyelesaikan pekerjaan sebagai Ijah dan mengurus Gavin yang membuatku lelah. Lebih dari itu, ada banyak hal yang bersemayam dalam benakku. Memikirkan Ibu yang sampai sekarang belum sempat kuhubungi. Memikirkan rumah tanggaku yang seolah cuma aku yang menjalani. Belum lagi komentar Ibu-Ibu posyandu tadi saat melihat tubuh mungil putraku tak segembul bayi lainnya. “Mbak, ASI-nya lancar kan?” “Mungkin ASI Mbak kurang berkualitas, apa Mbak nggak minum suplemen ASI?” “Banyakin makan sayur, Mbak!” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Memberi saran yang aku sendiri sudah jauh lebih dulu lakukan. Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan suara tonggeret di kampung yang dulu begitu memuakkan jauh lebih tenang dibanding suara para manusia yang tak punya hati,” tuturku pada dinding yang sudah pasti tak akan bisa menanggapi. Aku nggak tahu apa hari ini aku yang terlalu sensitif atau bagaimana, tapi kata-kata mereka seolah menyudutkanku dan mengatakan kalau aku tidak becus mengurus anakku sendiri. Ah … kalian tahu bagaimana rasanya jadi aku? Untuk sesaat aku terdiam menatap kosong pada dinding kamar, memejamkan mata berharap bisa sedikit menemukan ketenangan. Sayangnya kata tenang itu tak bisa kutemukan, isi kepala ini semakin berisik. Aku bagai dipaksa menonton setiap adegan demi adegan yang entah kapan akan usai. Perlahan kelopak mata ini terbuka. “Tuhan kapan semua ini akan berakhir?” Ada cairan bening yang menyelinap dari sudut mata. Namun, segera kutepis tatkala tangisan Gavin terdengar memecah kesunyian. Segera kubawa Gavin dalam gendongan. Hangat suhu tubuh terasa tak seperti biasanya. Demam, Gavin putraku demam. Meski tak terlalu panas, tetapi aku bisa merasakan perbedaannya. Aku turun ke dapur dengan Gavin dalam gendongan. Mencari plester kompres untuk demam anak yang memang sudah kusiapkan dari tadi saat pulang posyandu. Karena memang tadi bidannya sempat bilang kalau imunisasi kali ini bisa berefek demam pada anak. Baru saja plester kompres khusus bayi ini menempel di dahi Gavin, satu masalah lagi muncul. Langit yang dari tadi cerah tiba-tiba mengeluarkan tangisannya. Reflek diri ini diselimuti ketakutan dan rasa khawatir Berulang kali kuyakinkan pada diri dengan berucap, “tenang Ale! Nggak papa, nggak akan terjadi apa-apa.” Sayangnya, kalimat barusan hanya di lisan, tidak mampu menembus gelisahnya hati. Segera kuletakkan Gavin di kasur, dan berlari ke belakang. Untuk beberapa saat aku terdiam, terhempas di lantai dan merutuki diri. Bodoh. Padahal aku tahu laundry room di rumah ini menggunakan atap tempered glass, dan aku juga pakai dryer. Tidak sama dengan rumahku di kampung yang jemur pakaian hanya memanfaatkan cahaya matahari. Tidak ada jersey kesayangan Bapak yang dijemur di sini. Bahkan Bapak aja udah nggak ada, tapi kenapa aku masih seperti ini? Kalian tahu, aku capek banget kayak gini terus. “Ya ampun, Ale!” Seorang wanita paruh baya tiba-tiba berdiri di depanku dengan Gavin dalam gendongannya. Suara itu menarikku kembali dari masa lalu. Secepat kilat kuhapus bulir bening yang sempat jatuh. “Mama! kapan Mama sampai?” Seingatku tadi pintu depan terkunci rapat, bagaimana caranya beliau bisa masuk? Apa aku lupa lagi? “Baru aja. Tadi Mama panggil-panggil kamu nggak nyahut. Pintu depan nggak dikunci, dan Mama dengar Gavin nangis.” Dia menatapku lekat. “Mama kira kamu di kamar, makanya Mama langsung ke sana.” Dengan satu tangan dia menopang tubuh mungil Gavin, sedangkan tangan lainnya terulur menyentuh pipiku. “Ale, kamu baik-baik aja, Nak?” Pertanyaan itu terasa membuat pertahananku runtuh. Sekuat tenaga aku berusaha tersenyum. “Iya, Aku …. Nggak papa, Ma.” Suaraku bergetar. Bibirku menyunggingkan senyuman, tapi ternyata aku tak sekuat itu menyembunyikan sakit yang ada di dalam sana. Mataku tetap saja memanas dan menganak sungai. Cepat kuambil alih Gavin. Berusaha menghindari tatapan ibu mertuaku. Aku nggak sanggup ditatap seperti itu. “Aku buatkan minum buat Mama dulu, ya,” ucapku berusaha melarikan diri. Aku menghindar, tetapi dia mengikuti dari belakang. Tepat saat aku sampai di kamar dan menidurkan Gavin yang tak lagi menangis, wanita paruh baya itu memelukku. Hening tercipta. Ini kedua kalinya pertahananku runtuh di depan orang lain. Selama ini aku selalu berusaha untuk terlihat kuat di depan siapapun selain “Dia”seseorang dari masa laluku, tapi sekarang aku kembali runtuh di depan mertuaku. Dalam peluknya aku tumpahkan semua sesak yang ada. Aku … seolah bagai anak kecil yang sedang mengadu tentang sakitku. Aku nggak tahu kenapa, yang pasti aku kembali merasakan apa yang dulu Ale kecil itu rasakan. “Nak, ada apa? Apa Zayn menyakitimu?” tanyanya dengan lembut. Zayn. Nama itu semakin membuatku terpuruk. Apa sebaiknya kuceritakan saja pada Mama tentang sikap anaknya selama ini? Ya, mungkin ini sudah saatnya. Aku sudah nggak sanggup lagi hidup seperti ini. “Ma, Ale.” Suara berat dari laki-laki yang baru saja disebut Mama terdengar. “Ada apa ini?” Aku mengurai pelukan. Kembali ke mode awal. Entah kenapa tubuhku seolah selalu menolak untuk terlihat rapuh di depan ayah dari anakku ini. “Mas, kamu sudah pulang?” Kuraih tas kerjanya. “Kamu mau langsung mandi atau ….” “Nanti saja!” Bukan Mas Zayn yang menjawab, melainkan ibunya. “Ale, Mama mau bicara sama suamimu dulu. Sepertinya banyak hal yang harus Mama dengar dari mulutnya.” Dia bicara dengan terus memandang Mas Zayn dengan tatapan penuh intimidasi. “Ada apa, Ma?” Mas Zayn menatapku dan Mama secara bergantian. Ada ketegangan dari sorot matanya yang tak bisa dia sembunyikan dengan rapi. “Kita bicaranya besok-besok aja, ya, Ma. Ini sudah sore dan aku harus berangkat ke luar kota. Ada masalah di perusahaan cabang yang harus aku selesaikan.” “Apa? ke luar kota?” Suara Mama meninggi. “Kamu sudah gila? Nggak, nggak ada. Sudah cukup kamu melakukan kesalahan saat Ale melahirkan Gavin.” “Tapi, Ma ….” “Zayn!” Dua bola mata itu melotot tajam. “Kamu nggak lihat Gavin. Anak kamu sedang demam.” Kalimat itu berhasil membuat Mas Zayn memperhatikan buah hati kami yang mulai rewel karena suara gaduh yang terjadi di sini. Dia mendekat dan menyentuh dahi Zayn. Ini kali pertamanya dia melakukan itu pada anak kami. “Jangan terlalu memikirkan pekerjaan, Nak!” Mama kembali bicara dengan lebih tenang. “Anak dan istrimu juga butuh perhatianmu, mereka membutuhkan kehadiranmu sekarang.” “Aku tahu, Ma, tapi pekerjaan di sana juga tidak bisa aku tinggalkan begitu saja.” Aku hanya tersenyum getir. Ternyata lelaki itu tak sedikit pun luluh, meski darah dagingnya sedang sakit seperti ini. Pekerjaan baginya masih jadi prioritas utama. “Biar Pak Burhan yang berangkat ke sana.” Mama mengambil ponselnya, sepertinya dia akan menghubungi lelaki yang baru dia sebut namanya. “Ja-jangan, Ma!” Mas Zayn nampak gelisah ketika nama Pak Burhan disebut. Mama menyipitkan matanya. “Ada apa? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?”Kusandarkan diri pada sandaran kursi dengan Gavin berada dalam gendongan. Riuh hujan di luar sana tak mampu memberiku ketenangan. Setelah berulang kali kuyakinkan diri untuk tidak berlari keluar, kini kepalaku semakin bising oleh berbagai hal yang melelahkan. Berbagai goresan diciptakan telunjukku pada jendela kaca saat embun terbentuk di sana. Jika orang lain lelah oleh semua aktivitas fisik yang dia lakukan, maka aku berbeda. Lelah ini bukan lagi tentang hal fisik yang kujalani. Sungguh, tubuh ini jauh lebih lelah ketika berkutat dengan semua isi kepala. Ah … entah kapan semua ini bisa berakhir. Aku telah sangat kewalahan menjalaninya. “Mereka siapa, Mas?” Pertanyaan yang lolos setelah berulang kali aku berusaha membuka kunci ponsel Mas Zayn, hingga akhirnya berhasil. Aku tidak bertanya dengan nada tinggi, layaknya istri sah memergoki pengkhianatan suaminya. Aku berusaha setenang mungkin, menahan diri agar emosi ini tidak meledakkan tangis. “Bukankah dari awal sudah kukatak
“Makan malam sudah kusiapkan.” Aku bicara tanpa menatap lelaki yang sudah 3 hari ini tidak bicara padaku sama sekali. Sama seperti dia, aku pun enggan untuk memulai obrolan dengannya lebih dulu. Ya, kalau orang zaman sekarang bilang silent treatment, dan itulah yang terjadi antara kami. Hanya sesekali aku bicara dan itu pun cuma hal-hal penting, layaknya saat ini ketika dia baru pulang dengan wajah kusut tak karuan.“Hm.” Cuma gumam itu yang keluar, dan tungkainya melangkah menaiki anak tangga. Aku tahu dia pasti menuju kamar kami. Tempat dimana Gavin sedang terlelap. Sepertinya dia nggak bakalan makan malam lagi kali ini. Sama seperti malam sebelumnya sejak Mama pulang. Dia … tak pernah makan di rumah ini.Aku ingin tak menghiraukannya, sama seperti dia yang gak menghiraukanku. Namun, hati ini masih saja merasa bertanggung jawab atas semua keperluannya. Aku tak punya kemampuan untuk seacuh itu.Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi saat aku memasuki kamar. Di sana aku
“Besok pagi aku harus tetap berangkat ke luar kota.” Sunyi yang memenuhi setiap sudut kamar, pecah oleh suara berat dari Mas Zayn. Pandangannya tertuju pada Gavin yang terlelap dalam pangkuanku. “Lagipula, demam Gavin udah mulai turun.” Dia melirik sekilas ke arah Gavin.Aku hanya diam. Memperhatikan putra semata wayangku yang terlelap dalam pangkuan. Panasnya memang sudah turun, tetapi dia nggak bisa lepas dari gendongan. Tak dipungkiri, tubuhku rasanya mau remuk. Dari tadi tak sedikit pun Mas Zayn berniat untuk menggantikanku menggendong Gavin. Sementara mama mertuaku sudah terlelap sejak pembicaraannya dengan Mas Zayn berakhir setelah makan malam.Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah Mama yang nampak kesal, dan Mas Zayn yang sepertinya tertekan bisa ku simpulkan kalau itu bukan pembicaraan biasa. Sempat sih, Mama menggendong Gavin sebentar, cuma … aku nggak tega aja membiarkannya terlalu lama. “Tolong besok pagi kamu bantu bicara sama Mama!” Mas Zayn kembali
Sore datang menyapa menandakan satu lagi hari yang berat berhasil kulalui. Mengurus semuanya sendirian cukup menguras energi dan mentalku. Syukurnya aku masih bisa melaluinya meski dengan tertatih. Sebenarnya bukan cuma menyelesaikan pekerjaan sebagai Ijah dan mengurus Gavin yang membuatku lelah. Lebih dari itu, ada banyak hal yang bersemayam dalam benakku. Memikirkan Ibu yang sampai sekarang belum sempat kuhubungi. Memikirkan rumah tanggaku yang seolah cuma aku yang menjalani. Belum lagi komentar Ibu-Ibu posyandu tadi saat melihat tubuh mungil putraku tak segembul bayi lainnya. “Mbak, ASI-nya lancar kan?” “Mungkin ASI Mbak kurang berkualitas, apa Mbak nggak minum suplemen ASI?” “Banyakin makan sayur, Mbak!” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Memberi saran yang aku sendiri sudah jauh lebih dulu lakukan. Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan sua
“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini. Lucu, ya. Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan. Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin. “Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan. Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia? Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama s







