Home / Rumah Tangga / Bukan Aku Orangnya / Bab 1. Bukan Mesin Pencetak Uang

Share

Bukan Aku Orangnya
Bukan Aku Orangnya
Author: Zhifran jhoiz

Bab 1. Bukan Mesin Pencetak Uang

Author: Zhifran jhoiz
last update Last Updated: 2025-10-02 11:38:05

“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini.

Lucu, ya.

Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan.

Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin.

“Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan.

Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia?

Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama sekali, selain uang nafkah yang selalu dia berikan tepat waktu.

Lagian sejak kami menikah memang polanya selalu seperti ini. Dia akan di rumah selama seminggu dan akan keluar kota selama seminggu. Sangat jarang sekali dia berada di rumah lebih dari seminggu. Terlebih jika ada masalah di perusahaan cabang itu, maka dia bisa di sana berminggu-minggu, atau bahkan lebih dari sebulan.

“Iya, kenapa?”

“Nggak … nggak papa. Cuma memastikan aja,” jawabku singkat yang hanya direspon dengan anggukan.

Kulirik wajah putra semata wayang kami yang masih terlelap dalam pangkuan. Putra yang sejak awal seolah tak pernah dianggap keberadaannya oleh Mas Zayn. Bahkan kelahirannya pun tak disambut oleh suara azan dari Mas Zayn.

Masih kuingat pagi itu aku merasakan sakitnya kontraksi, tetapi Mas Zayn lebih memilih berangkat keluar kota yang katanya demi pekerjaan. Aku ke rumah sakit sendirian menggunakan taxi. Berkali-kali dokter menanyakan suamiku, tetapi yang ditanya tak pernah datang. Aku sampai meminta bantuan dokter untuk mengadzani putraku sendiri.

Aku mendongak, mengusir rasa panas pada bola mata. Berharap cairan bening itu tidak tumpah. Entah kenapa, kalau mengingat kejadian itu aku selalu kembali merasakan sakitnya.

Kopi hitam miliknya telah tandas. Hanya menyisakan ampas yang tak kan pernah lagi dia sentuh. Menandakan kalau dia sudah siap untuk pergi.

“Mas berangkat dulu.” Dia bangkit dari duduknya. “Kamu jangan lupa siapkan semua keperluan Mas selama di sana!” Dia berlalu begitu saja setelah mengucapkan kalimat terakhir. Tak peduli dengan jawaban yang belum sempat kuberikan.

Jujur aku lelah dengan keadaan ini. Ingin menyerah saja rasanya, tetapi hati kecil ini masih percaya dengan apa yang dulu pernah dikatakan Ibu. “Jika kamu sudah punya anak nanti, maka perlahan cinta akan hadir di antara kalian.”

Aku tidak tahu kalimat itu sebenarnya hanyalah pemanis untuk menutupi tujuan wanita yang kupanggil Ibu itu atau tidak. Hanya saja aku mulai menaruh sedikit harapan sejak putraku lahir ke dunia. Lagi pula, keluargaku terutama Ibu dulu sudah mewanti-wanti agar pernikahan ini tidak kandas begitu saja. Walaupun aku sendiri masih ragu akankah ada cinta yang Ibu sebutkan itu hadir di antara kami.

“Hm … Mas!” Kuberanikan diri untuk bicara tepat saat dia telah berada di ambang pintu. Selangkah lagi maka dia akan menghilang bersama tertutupnya pintu selamat datang di rumah kami itu.

“Apa?” tanyanya saat berbalik. Aku rasa dia jengkel. Terlihat jelas dari cara dia menarik nafas berat.

“Apa jam 10.00 nanti kamu bisa menemaniku? Hari ini ada posyandu, dan imunisasinya Gavin,” ucapku ragu-ragu.

“Kamu pergi sendiri saja.” Dia melirik ke arah Gavin yang berada dalam gendonganku. “Aku banyak kerjaan.”

“Baiklah.” Sekuat tenaga aku berusaha menahan gemuruh di dalam sana. Menyingkirkan semua amarah dan kekesalan yang hanya akan menimbulkan pertengkaran panjang. Pertengkaran yang sudah pasti menguras energi.

Sebenarnya aku tidak begitu butuh untuk diantar. Aku hanya ingin dia bisa meluangkan waktunya untuk Gavin. Memperhatikan tumbuh kembang anaknya, juga membantu menjaga Gavin saat suntik imunisasi. Karena aku selalu takut setiap kali harus melihat jarum suntik menembus kulit putraku.

Deru mesin mobil mengantarkan dia menjauh dari hunian kami. Meninggalkan aku dan Gavin yang terjaga saat mendengar Mas Zayn menutup pintu rumah dengan cukup keras.

Hampir satu jam sejak kepergian Mas Zayn, dan Gavin masih saja rewel. Putraku sama sekali tak mau lepas dari gendongan. “Duh … Nak, tenang, ya!” Kudekap lembut tubuh mungilnya. “Bunda masih banyak kerjaan Sayang, kita kan mau ke posyandu,” ucapku dengan suara serak.

Pandanganku kini telah berkabut, tertutup oleh cairan-cairan bening yang berjatuhan begitu saja. Otakku begitu berisik memikirkan semua pekerjaan rumah yang belum beres. Belum lagi memikirkan reaksi Mas Zayn nanti jika saat dia pulang rumah masih berantakan.

“Tenang Ale! Ini masih pagi, kamu masih punya banyak waktu,” monologku, mencoba menenangkan diri.

Aku belajar menenangkan diriku dulu, agar Gavin juga bisa lebih tenang. Beruntung hal ini berhasil. Gavin sekarang sudah tidak rewel dalam pangkuanku sambil kuberi ASI.

Sesekali kuciumi telapak tangan Gavin. Memperhatikan setiap detail kecil di wajahnya. Kesunyian ini perlahan memberikan kenyamanan untukku. Sayang itu tidak berlangsung lama. Suara notifikasi dari ponselku terdengar, dan itu mengganggu fokusku.

Kuraih ponsel itu dengan tangan kanan, dan memperhatikan pesan yang masuk secara perlahan. Degup jantungku memburu seketika saat membaca pesan dari laki-laki yang satu jam lalu meninggalkan rumah, Mas Zayn.

Untuk sesaat kututup mata, berharap aku salah lihat. Namun, ternyata aku tidak salah sedikit pun. Pesan itu jelas tertulis, “Bilang pada ibumu untuk belajar membiayai hidupnya dan anak-anaknya sendiri. Jangan bisanya cuma jadi benalu!”

Jemariku gemetar. Tubuhku seolah lemah, kehilangan tulang untuk menyangga. “Bu … apa lagi yang Ibu lakukan?” Aku bicara pada ruang hampa dalam sepi.

Belum sempat aku mencerna sepenuhnya maksud kalimat Mas Zayn, ponsel dalam genggaman kembali bergetar, dan ini pesan ke dua darinya.

“Aku bukan mesin pencetak uang bagi keluarga kalian!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Aku Orangnya   Bab. 5 Rahasia yang Terkoyak

    Kusandarkan diri pada sandaran kursi dengan Gavin berada dalam gendongan. Riuh hujan di luar sana tak mampu memberiku ketenangan. Setelah berulang kali kuyakinkan diri untuk tidak berlari keluar, kini kepalaku semakin bising oleh berbagai hal yang melelahkan. Berbagai goresan diciptakan telunjukku pada jendela kaca saat embun terbentuk di sana. Jika orang lain lelah oleh semua aktivitas fisik yang dia lakukan, maka aku berbeda. Lelah ini bukan lagi tentang hal fisik yang kujalani. Sungguh, tubuh ini jauh lebih lelah ketika berkutat dengan semua isi kepala. Ah … entah kapan semua ini bisa berakhir. Aku telah sangat kewalahan menjalaninya. “Mereka siapa, Mas?” Pertanyaan yang lolos setelah berulang kali aku berusaha membuka kunci ponsel Mas Zayn, hingga akhirnya berhasil. Aku tidak bertanya dengan nada tinggi, layaknya istri sah memergoki pengkhianatan suaminya. Aku berusaha setenang mungkin, menahan diri agar emosi ini tidak meledakkan tangis. “Bukankah dari awal sudah kukatak

  • Bukan Aku Orangnya   Bab 4. Sebuah Kenyataan

    “Makan malam sudah kusiapkan.” Aku bicara tanpa menatap lelaki yang sudah 3 hari ini tidak bicara padaku sama sekali. Sama seperti dia, aku pun enggan untuk memulai obrolan dengannya lebih dulu. Ya, kalau orang zaman sekarang bilang silent treatment, dan itulah yang terjadi antara kami. Hanya sesekali aku bicara dan itu pun cuma hal-hal penting, layaknya saat ini ketika dia baru pulang dengan wajah kusut tak karuan.“Hm.” Cuma gumam itu yang keluar, dan tungkainya melangkah menaiki anak tangga. Aku tahu dia pasti menuju kamar kami. Tempat dimana Gavin sedang terlelap. Sepertinya dia nggak bakalan makan malam lagi kali ini. Sama seperti malam sebelumnya sejak Mama pulang. Dia … tak pernah makan di rumah ini.Aku ingin tak menghiraukannya, sama seperti dia yang gak menghiraukanku. Namun, hati ini masih saja merasa bertanggung jawab atas semua keperluannya. Aku tak punya kemampuan untuk seacuh itu.Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi saat aku memasuki kamar. Di sana aku

  • Bukan Aku Orangnya   bab 3. Sebuah pertengkaran

    “Besok pagi aku harus tetap berangkat ke luar kota.” Sunyi yang memenuhi setiap sudut kamar, pecah oleh suara berat dari Mas Zayn. Pandangannya tertuju pada Gavin yang terlelap dalam pangkuanku. “Lagipula, demam Gavin udah mulai turun.” Dia melirik sekilas ke arah Gavin.Aku hanya diam. Memperhatikan putra semata wayangku yang terlelap dalam pangkuan. Panasnya memang sudah turun, tetapi dia nggak bisa lepas dari gendongan. Tak dipungkiri, tubuhku rasanya mau remuk. Dari tadi tak sedikit pun Mas Zayn berniat untuk menggantikanku menggendong Gavin. Sementara mama mertuaku sudah terlelap sejak pembicaraannya dengan Mas Zayn berakhir setelah makan malam.Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah Mama yang nampak kesal, dan Mas Zayn yang sepertinya tertekan bisa ku simpulkan kalau itu bukan pembicaraan biasa. Sempat sih, Mama menggendong Gavin sebentar, cuma … aku nggak tega aja membiarkannya terlalu lama. “Tolong besok pagi kamu bantu bicara sama Mama!” Mas Zayn kembali

  • Bukan Aku Orangnya   Bab 2. Kedatangan Mertua

    Sore datang menyapa menandakan satu lagi hari yang berat berhasil kulalui. Mengurus semuanya sendirian cukup menguras energi dan mentalku. Syukurnya aku masih bisa melaluinya meski dengan tertatih. Sebenarnya bukan cuma menyelesaikan pekerjaan sebagai Ijah dan mengurus Gavin yang membuatku lelah. Lebih dari itu, ada banyak hal yang bersemayam dalam benakku. Memikirkan Ibu yang sampai sekarang belum sempat kuhubungi. Memikirkan rumah tanggaku yang seolah cuma aku yang menjalani. Belum lagi komentar Ibu-Ibu posyandu tadi saat melihat tubuh mungil putraku tak segembul bayi lainnya. “Mbak, ASI-nya lancar kan?” “Mungkin ASI Mbak kurang berkualitas, apa Mbak nggak minum suplemen ASI?” “Banyakin makan sayur, Mbak!” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Memberi saran yang aku sendiri sudah jauh lebih dulu lakukan. Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan sua

  • Bukan Aku Orangnya   Bab 1. Bukan Mesin Pencetak Uang

    “Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini. Lucu, ya. Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan. Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin. “Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan. Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia? Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status