“Maaf ya, Ace. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana nasibku di tangan Tuan Edward tadi.”Theo berkata dengan wajah memelas di ruang kerja Ace. Sementara itu, Ace masih fokus memeriksa dokumen-dokumen penting yang menjadi sumber masalah hari itu—sesuatu yang bahkan tidak bisa ia tinggalkan meski besok ia harus berangkat bulan madu.Dengan cepat dan teliti, Ace mencoret beberapa bagian proposal, memperbaiki susunan kalimat, lalu mengoreksi angka anggaran yang keliru dengan mudahnya.“Cepat perbaiki ini sebelum kutandatangani,” ucap Ace datar sambil menyodorkan tumpukan berkas yang sudah penuh coretan merah.Theo buru-buru membacanya. Semakin lama matanya bergerak, semakin pucat wajahnya.“Jadi... sebanyak ini salahnya?” tanyanya tak percaya.Ace menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya.“Makanya kalau kerja yang benar, jangan asal-asalan,” tegurnya dingin, meski suaranya tetap rendah dan terkendali. “Ini kerja sama bisnis dengan perusahaan besar. Kalau proposal
더 보기