Sepanjang perjalanan pulang, suasana terasa hening, dingin dan suram. Felisha tidak berani membuka suara. Sementara itu, Ace fokus pada kemudi, seolah membangun dinding tinggi di antara mereka.Sesekali pria itu menambah kecepatan saat ada mobil lain menyalip. Emosinya mudah tersulut, tertutama di jalanan. Laju mobil yang terlalu cepat membuat perut Felisha menegang. Ia menahan napas sambil berpegangan pada pinggir kursi."Ace... pelan-pelan saja," ucap Felisha, memberanikan diri.Namun, tidak ada respons. Tatapan Ace tetap lurus ke depan, tidak sedikit pun beralih padanya.Suaminya benar-benar berbeda.Tidak seperti biasanya—yang selalu mengisi harinya dengan canda, tawa, dan godaan manis. Kini, yang tersisa hanyalah jarak... dan amarah yang belum mereda.Pria itu benar-benar marah padanya.Hingga mereka tiba di rumah, suasana tetap membeku. Ace bahkan membanting pintu mobil setelah turun, lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Tanpa menoleh, ia langsung menaiki tangga menuju la
더 보기