Gavin turun dengan penampilan yang rapi, menegaskan bahwa ia akan pergi. Saat berjalan menyusuri anak tangga, pandangan Gavin tertuju pada Xienna yang tengah bermanja-manja pada sang ayah di ruang tamu."Pa, ulang tahun aku tahun ini juga dirayain, kan? Temen-temen udah pada nanya.""Kamu bilang ke mama kamu, biar mama kamu yang persiapkan acaranya."Xienna tersenyum lebar, apa di dunia ini yang tidak akan ia dapatkan ketika ia meminta. Tentu saja tidak ada. Sejak kecil Xienna mendapatkan apapun yang ia inginkan."Papa udah nyiapin kado buat aku, kan?""Kamu mau kado apa?""Mobil," celetuk Xienna penuh harap.Arnold menggeleng tegas. "Selain itu, ada Pak Teguh yang bisa antar kamu kemanapun.""Papa..." Xienna merengek dan melempar tangan Arnold yang sebelumnya ia pegang."Temen-temen aku semuanya udah punya mobil, cuma aku yang belum. Lagian tahun ini aku juga lulus. Udah mau jadi anak kuliahan masa belum punya mobil.""Apapun selain mobil," tandas Arnold.Xienna menghela napas kesal
Read more