“Olivia.”Olivia baru saja keluar dari mobil pun langsung menghentikan langkah dan membuang nafas kasar. Dengan cepat dia membalikkan tubuh, menatap ke arah Sean yang tengah melangkah ke arahnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak suka, merasa kesal karena sejak tadi pria itu mengikutinya. “Berhenti mengikutiku, Sean,” kata Olivia dengan tegas. Namun, Sean tidak mendengarnya sama sekali. Dia malah menyahut, “Aku hanya ingin mengantarmu sampai kamar. Jadi, kalau kamu memang membutuhkan bantuan, aku bisa langsung membantu.”“Tapi aku tidak membutuhkan bantuanmu sama sekali. Aku malah risih dengan tingkahmu kali ini,” ucap Olivia lagi. Dia tidak memikirkan jika ucapannya menyakitkan atau tidak. Olivia hanya melontarkan apa yang ada dalam benaknya. ‘Aku jauh lebih suka dengan sifatmu yang dulu, selalu menjauh dan tidak ingin dekat denganku. Kalau seperti ini Aku malah merasa muak dan kesal sendiri,’ batin Olivia. Jika dikatakan sakit, tentu saja Sean merasakan hal itu. Dia juga kesal
Read more