“Mama… orang dewasa harus bisa mempertanggungjawabkan keputusan dan perbuatannya,” ucap Hanna pelan.“Itu yang selalu Mama katakan padaku, kan?”Kalimat itu tidak dimaksudkan untuk menyerang.Tidak juga untuk mencela.Namun entah kenapa, justru kalimat sederhana itu terasa paling menyakitkan.Lily menatap Hanna lama. Tatapan yang penuh kecewa—seolah tidak percaya putri yang ia besarkan dengan tangan dan pengorbanannya sendiri bisa berbicara seperti itu.“Mama kecewa sama kamu,” gumam Lily lirih.Hanna menelan ludah. Dadanya sesak, tapi ia memaksa suaranya tetap utuh.“Ma… maaf kalau aku tidak bisa menjadi anak seperti yang Mama harapkan,” katanya akhirnya.“Kalau Mama ingin kembali ke Valthera, silakan saja. Aku tidak akan menuduh Mama lebih memilih Prof. Julian daripada aku. Mama berhak bahagia.”Nada suaranya tegas, terlalu tegas untuk seseorang yang sedang berusaha menahan luka.“Katakan pada Mama,” Lily menyela, suaranya menegang, “sebenarnya untuk apa kita pergi dari Valthera?”H
Terakhir Diperbarui : 2025-12-14 Baca selengkapnya