Liam menggenggam tangan Hanna dengan lembut, menciumnya berulang kali. Tapi Hanna hanya diam.“Kamu tahu, setelah Mama, kamu satu-satunya yang aku cintai. Apa kamu tega membiarkanku sendirian di Valthera?” tanyanya, suara serak menahan haru.Hanna kemudian membelai wajah Liam, matanya berkaca-kaca. “Aku takut… takut gak bisa bikin kamu bahagia,” bisiknya pelan.“Siapa yang bilang? Kamu gak usah ngapa-ngapain. Hanya diam di sampingku sudah bikin aku bahagia, kok.”“Liam… kamu berlebihan.”“Hanna…” suara Liam mendalam, penuh pertanyaan. “Menurutmu, semua yang aku lakukan masih belum bikin kamu percaya kalau aku cinta sama kamu?”Pertanyaan itu lagi-lagi membuat Hanna tak bisa menjawab. “Aku… aku percaya sama kamu, Liam. Aku hanya takut…”“Tolong, jangan bicara begitu lagi…” ucap Liam, mendekat.Tangannya merayap, satu tangan ke belakang kepala Hanna, yang satu lagi ke punggungnya, menekan lembut hingga jarak mereka tak tersisa. Kemudian, dia menyatukan bibirnya dengan bibir Hanna. Perla
Terakhir Diperbarui : 2025-12-21 Baca selengkapnya