Pagi ini rumah terasa jauh lebih cerah dibanding dua hari lalu. Suhu tubuh Dharma akhirnya turun stabil semalam, dan setidaknya untuk pertama kalinya ia bisa tidur tanpa menggigil atau mengerang pelan di antara napas panasnya. Dharma terlihat berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemejanya. “Mas…” aku memeluk lengan kirinya dari samping. “Kau yakin mau berangkat? Badanmu belum seratus persen pulih.” Ia menoleh, menepuk puncak kepalaku dengan lembut. “Aku sudah jauh lebih baik.” “Kau seharusnya istirahat sehari lagi,” protesku. “ Tidak apa-apa.” Dharma tersenyum tipis. “Aku bawakan bekal dan vitamin, ya,” ucapku akhirnya, menyerah. Dharma mengangguk. “Terima kasih.” Ia memakai jasnya, mengambil kunci mobil, lalu menarikku ke pelukannya sebelum berangkat. “Kalau ada apa-apa, telepon aku,” kataku sambil merapikan dasinya. “Aku baik-baik saja, Selena.” Ia mengusap pipiku. “Aku hanya ke kantor sebentar, paling beberapa jam.” Aku mengerucutkan bibir, tidak benar-benar percaya,
Dernière mise à jour : 2025-11-24 Read More