Brigitta menatap wajah suaminya yang hanya menyesap kopinya dengan santai. Dirinya tidak perduli dengan tatapan tajam istrinya. Brigitta menghela napas berulang kali seolah ingin berbicara pada Blake tapi tidak jadi."Ada apa Brit?" tanya Blake dengan wajah polos."Apakah kamu memakai pengaruhmu agar aku kembali ke kedokteran?" balas Brigitta pada akhirnya."Iya," jawab Blake pendek tapi tegas. "Ya Tuhan, Blake. Theo masih kecil!" sergah Brigitta."Tapi Theo bisa aku urus," jawab Blake santai. "Kalau kamu merasa bingung meninggalkan Theo, kamu bisa saja menitipkan di day care rumah sakit atau kampus. Kan ada aku jadi kamu tidak usah bingung." Blake tersenyum manis.Brigitta hanya memegang pelipisnya. "Blakeeeee ....""Sayang, kamu itu cerdas. Studi kamu tinggal sedikit dan kamu bisa menjadi dokter spesialis yang kamu inginkan. Lagipula, aku senang melihat kamu berhasil di studi kamu. Ada satu kebanggaan tersendiri bukan? Not me but YOU! Kamu bisa membuktikan bahwa kamu mampu, Brit. J
Read more