Pagi itu dalam kamar rumah sakit, suasana terasa sunyi, namun penuh emosi yang belum mereda. Nadia masih terbaring lemah di tempat tidur. Infus terpasang di tangannya, wajahnya pucat, namun napasnya stabil. Di kursi samping tempat tidur, Elena duduk diam. Tangannya menggenggam tangan Nadia erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menghilang. “Mama Nadia” suaranya pelan dan bergetar. Nadia membuka matanya perlahan. Butuh beberapa detik hingga pandangannya fokus. “Elena” Gadis kecil itu langsung bangkit dan memeluknya dengan hati-hati. Tangisnya pecah lagi. “Aku pikir mama Nadia juga pergi..” Nadia langsung memeluknya walaupun tubuhnya masih lemah. “Mama Nadia ada di sini, nak” Elena menggeleng di pelukannya. “Aku takut, aku takut banget” Tangannya mencengkeram baju Nadia. “Aku sudah kehilangan mama Viola, aku tidak mau kehilangan mama Nadia juga” Air mata Nadia jatuh. Ia mencium rambut Elena berulang kali. “Tenang sqyang, mama Nadia tidak akan
Read more