Hari itu dimulai dengan ringan. Terlalu ringan. Seolah semua orang akhirnya benar-benar bisa bernapas setelah semua yang terjadi. Pagi di halaman belakang villa Blankenese terasa cerah. Kolam renang yang beberapa hari lalu dibersihkan kini terlihat jernih, memantulkan langit biru Hamburg yang jarang muncul. Elena berlari kecil di sekitar taman, memegang Bruno. “Ke sini!” kata Elena riang, seolah Bruno bisa benar-benar mengerti. Di kursi dekat kolam, Ayu duduk santai, sementara Paul berdiri tak jauh, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. “Kalau kamu mau lihat, lihat saja,” kata Ayu tanpa menoleh. Paul mengangkat alis. “Saya tidak melihat apa-apa.” Ayu menyeringai. “Iya, iya.” Di balkon atas, Nadia berdiri dengan hati-hati, ditemani Camille. “Madame sebaiknya tidak terlalu lama berdiri,” ujar Camille. Nadia tersenyum. “Aku hanya lihat Elena sebentar.” Matanya mengikuti gerak anak itu. Penuh kasih. Penuh perhatian. Di bawah, Elena tertawa sambil berlari mundur. “Brun
Read more