Malam itu, langit kota itu seolah turut merasakan gejolak yang mendidih di kediaman Deveroux.Hujan turun bukan sekadar gerimis, melainkan badai yang mengamuk dengan petir yang sesekali membelah kegelapan.Di balik jendela kaca besar ruang kerjanya, Gabriella berdiri mematung menatap lurus ke arah gerbang besi raksasa yang membatasi dunianya dengan dunia luar.Di sana, di bawah sorot lampu jalan yang temaram, seorang pria berdiri tak bergeming. Rafael Dirgantara.Tanpa payung, tanpa pelindung, membiarkan tubuhnya dihantam air yang turun dengan rakus. Kemeja hitamnya sudah melekat di kulitnya, menonjolkan pundaknya yang tegap meski ia tampak begitu kecil di tengah amukan alam.“Dia gila,” gumam Gabby, suaranya bergetar. Tangannya mencengkeram erat pinggiran tirai. “Dia baru saja keluar dari rumah sakit. Jahitannya, luka operasinya belum kering benar.”“Dia sudah di sana selama dua jam, Kak,” suara Noah terdengar dari belakang.Noah berdiri dengan tangan bersedekap, menatap kakaknya den
Terakhir Diperbarui : 2026-02-07 Baca selengkapnya