"Arrgh…!" Xia Mo menjerit tertahan, tangannya refleks menyentuh dahi yang berdenyut nyeri. "Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Lan cemas, bergegas mendekat. Namun, Xia Mo mengabaikannya. Dengan gerakan cepat, ia berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang. Tatapannya tajam, menusuk sosok yang baru saja menabraknya. "Apa kau buta, hah?! Kalau berjalan pakai mata, jangan pakai dengkul!" makinya kesal. Orang itu tetap diam. Dari balik cadarnya, ia hanya menatap Xia Mo dengan dingin, tanpa sedikit pun reaksi. Sikap acuh itu justru membuat amarah Xia Mo semakin memuncak. Ia melangkah maju, melupakan Lan yang masih tampak khawatir di belakangnya. "Hai! Aku bicara denganmu!" bentaknya. Lalu ia menyeringai sinis. "Oh, aku tahu… bukan cuma buta. Kau juga tuli, ya?" Hening. Pria itu masih tidak bergeming. Namun, kesabarannya rupanya ada batasnya. Dalam sekejap, ia mengangkat tangan—dan— "Kau—hm… hm…!" Mata Xia Mo langsung membelalak. Bibirnya bergerak, tetapi tak satu
Read more