“Bai, ini aku bawakan minuman untukmu. Cepat diminum, ya,” ucap Xia We lembut, sambil menyerahkan segelas air kepada adiknya.Tanpa rasa curiga sedikit pun, Xia Bai menerima gelas itu.“Terima kasih, Jie Jie. Kau memang tahu saja, aku sedang haus.”Ia meneguk air itu dengan tenang. Namun baru beberapa teguk, tiba-tiba tubuhnya menegang. Gelas di tangannya terlepas, jatuh dan pecah di lantai, bersamaan dengan rasa sesak yang mendadak menghantam dadanya.Xia Bai terbatuk keras. Darah segar memuncrat keluar dari mulutnya. Kedua matanya melebar, menatap tak percaya ke arah kakaknya yang berdiri di hadapannya dengan tersenyum menyeringai.“Jie… Jie…” suaranya lirih, bergetar di sela napas yang tersengal. Ia mengulurkan tangan, seolah meminta pertolongan.Namun Xia We justru melangkah mundur, menatapnya dengan pandangan dingin. “Kau tahu, Bai? Hari yang kutunggu akhirnya datang. Sekarang kau akan pergi… menyusul ibumu.” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan senyum miring. “Dan aku… akan menjad
Last Updated : 2025-10-09 Read more