ログインXia Bai, gadis cantik dan berbakat. Harus tewas ditangan kakaknya yang memiliki hati busuk, akan rasa irinya. "Aku bersumpah, kak. Bila ada kehidupan selanjutnya, aku akan membalaskan dendamku padamu." --- Sementara disisi yang berbeda. Seorang Selir bernama Xia Mo, harus tewas ditangan istri Kaisar Ming yang lainnya. Ia meminum racun yang mengatasnamakan Kaisar Ming, hingga membuatnya tewas dalam mengenaskan. Padahal ini pertama kalinya, Kaisar berkunjung kepadanya. Tetapi, ia malah dibunuh oleh seseorang yang begitu iri dan membencinya, menganggapnya saingin yang harus disingkirkan. "Ya Dewa, kalau boleh aku meminta. tolong balaskan rasa sakit dan dendamku pada mereka semua."
もっと見る“Bai, ini aku bawakan minuman untukmu. Cepat diminum, ya,” ucap Xia We lembut, sambil menyerahkan segelas air kepada adiknya.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Xia Bai menerima gelas itu. “Terima kasih, Jie Jie. Kau memang tahu saja, aku sedang haus.” Ia meneguk air itu dengan tenang. Namun baru beberapa teguk, tiba-tiba tubuhnya menegang. Gelas di tangannya terlepas, jatuh dan pecah di lantai, bersamaan dengan rasa sesak yang mendadak menghantam dadanya. Xia Bai terbatuk keras. Darah segar memuncrat keluar dari mulutnya. Kedua matanya melebar, menatap tak percaya ke arah kakaknya yang berdiri di hadapannya dengan tersenyum menyeringai. “Jie… Jie…” suaranya lirih, bergetar di sela napas yang tersengal. Ia mengulurkan tangan, seolah meminta pertolongan. Namun Xia We justru melangkah mundur, menatapnya dengan pandangan dingin. “Kau tahu, Bai? Hari yang kutunggu akhirnya datang. Sekarang kau akan pergi… menyusul ibumu.” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan senyum miring. “Dan aku… akan menjadi satu-satunya putri yang diakui semua orang. Tak perlu lagi berbagi dengan siapa pun.” Mata Xia Bai membulat sempurna. Ia menatap kakaknya tak percaya. Ia tak pernah menyangka, sosok yang selama ini tampak lembut dan penyayang ternyata menyimpan kebusukan sedalam itu. “Kenapa…” Xia Bai berusaha berbicara di tengah napas yang tersendat. “Kenapa kau melakukan ini padaku, Jie Jie? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja…?” Suara itu nyaris tak terdengar. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah dewa kematian tengah menarik nyawanya perlahan. “Kau tanya kenapa?” Xia We menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan jijik. “Karena aku membencimu, Xia Bai. Semua orang hanya memperhatikanmu. Mereka tak pernah melihatku!” Nada suaranya meninggi, penuh emosi. “Dan yang paling membuatku muak, pria yang kucintai ternyata mencintaimu. Aku membencimu, Xia Bai… sungguh aku membencimu.” Ia berhenti sejenak, menatap tubuh adiknya yang kini gemetar lemah di lantai. Kemudian ia berjongkok, mendekat ke telinga adiknya, berbisik dingin, “Tapi tenang saja… setelah ini, semua yang menjadi milikmu akan menjadi milikku. Termasuk pria itu.” Xia Bai hanya bisa menatapnya dengan mata yang mulai buram, namun penuh kebencian. Genggaman tangannya mengeras, sementara kakaknya tertawa keras, tawa kemenangan yang menusuk hati. Tanpa sedikit pun rasa iba, Xia We berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan adiknya yang tergeletak sekarat. Racun yang ia gunakan bekerja cepat, mematikan dalam hitungan menit. Disisa napas terakhirnya, Xia Bai genggam menjadi sumpah. Ia memejamkan mata, menahan air mata dan amarah yang membara di dada. “Aku bersumpah, Xia We…” bisiknya lirih. “Jika ada kehidupan selanjutnya, aku akan membalas semua perbuatanmu.” Setelah kata itu terucap, tubuh Xia Bai terdiam sepenuhnya. Hening. Hanya sisa kaca pecah dan tawa jahat Xia We yang menggema di udara sore itu. * * * Sementara di tempat lain, seorang wanita hanya bisa pasrah ketika Dewa Kematian mulai menarik napas hidupnya yang terakhir. “Ya Dewa… bila ada keajaiban, kumohon… balaskan dendamku pada mereka semua. Terutama pada Selir Agung… wanita keji yang telah membunuhku,” lirihnya penuh kesedihan. Tak lama setelah doa itu terucap, napasnya terhenti perlahan. Tubuhnya membeku dalam keheningan. Namun beberapa saat kemudian, cahaya lembut berwarna keemasan tiba-tiba menyelimuti tubuh wanita itu. Cahaya itu berpendar semakin terang, hingga akhirnya memudar. Dan di saat itu, sepasang mata yang seharusnya telah tertutup selamanya, terbuka kembali. “Ugh…” Wanita bernama Xia Mo, mengaduh pelan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Ia menggeleng perlahan, berusaha menenangkan rasa sakit yang menusuk di pelipisnya. “Aku… di mana ini?” bisiknya kebingungan. “Apa ini… akhirat? Tapi… kenapa tempatnya buruk sekali?” Ia menatap sekeliling dengan wajah heran. Ruangan itu gelap, pengap, dan berantakan—jauh dari bayangan tempat yang suci dan damai. “Astaga… apa ini benar akhirat? Kenapa kelihatannya seperti gubuk reyot? Bukankah kata orang, dunia arwah itu indah?” gerutunya sambil menghela napas panjang. Tak ada suara selain detak jantungnya sendiri. Ia menunggu, berharap ada seseorang yang datang menjelaskan di mana ia berada. Tapi hingga beberapa menit berlalu, tak seorang pun muncul. Ia semakin resah. “Ini aneh sekali… apa aku diseret ke neraka karena dendamku?” Baru saja ia hendak berdiri, tiba-tiba. brak! Sebuah pintu terbuka lebar dengan suara keras, membuat Xia Mo tersentak kaget dan spontan menatap ke arah sumber suara. Dari balik pintu, terdengar suara seorang wanita terkejut, “Astaga… ternyata dia masih hidup!”Malam harinya, saat seluruh istana terlelap dalam sunyi, Xia Mo diam-diam menyelinap keluar dari kamarnya. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara, menyusuri lorong-lorong gelap yang hanya diterangi cahaya remang obor di dinding. Dengan santai, ia terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Ia mengedarkan pandangan sejenak, memastikan keadaan sekitar benar-benar sepi. Setelah itu, ia mendekat dan mengintip melalui celah kecil di pintu. Sunyi. Tak ada siapa pun di dalam. "Syukurlah… aman," gumamnya pelan. Tanpa membuang waktu, Xia Mo segera membuka pintu itu dan menyelinap masuk, lalu menutupnya kembali dengan cepat. Begitu berbalik, matanya langsung disambut deretan rak buku yang menjulang tinggi. Senyumnya perlahan mengembang. "Setidaknya… aku tidak akan bosan," bisiknya lirih. Berbekal sebuah obor di tangannya, Xia Mo mulai menelusuri rak demi rak. Jemarinya sesekali menyusuri punggung buku, memilih mana yang sekiranya
"Arrgh…!" Xia Mo menjerit tertahan, tangannya refleks menyentuh dahi yang berdenyut nyeri. "Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Lan cemas, bergegas mendekat. Namun, Xia Mo mengabaikannya. Dengan gerakan cepat, ia berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang. Tatapannya tajam, menusuk sosok yang baru saja menabraknya. "Apa kau buta, hah?! Kalau berjalan pakai mata, jangan pakai dengkul!" makinya kesal. Orang itu tetap diam. Dari balik cadarnya, ia hanya menatap Xia Mo dengan dingin, tanpa sedikit pun reaksi. Sikap acuh itu justru membuat amarah Xia Mo semakin memuncak. Ia melangkah maju, melupakan Lan yang masih tampak khawatir di belakangnya. "Hai! Aku bicara denganmu!" bentaknya. Lalu ia menyeringai sinis. "Oh, aku tahu… bukan cuma buta. Kau juga tuli, ya?" Hening. Pria itu masih tidak bergeming. Namun, kesabarannya rupanya ada batasnya. Dalam sekejap, ia mengangkat tangan—dan— "Kau—hm… hm…!" Mata Xia Mo langsung membelalak. Bibirnya bergerak, tetapi tak satu
“Yang Mulia… Yang Mulia, gawat, Yang Mulia!” Kaisar Ming yang tengah menekuni laporan di tangannya segera menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara panik pengawal pribadinya. Ia mengangkat pandangan, menatap sang pengawal dengan ekspresi datar. “Ada apa? Mengapa kau terlihat begitu panik?” tanyanya tenang. “Ampun, Yang Mulia… Nona Mo, dia…” Nama itu seketika membuat tatapan Kaisar Ming berubah tajam. “Ada apa dengan gadis itu?” suaranya terdengar lebih tegas. “Ampun, Yang Mulia… Nona Mo saat ini sedang berkelahi dengan preman pasar.” “Apa?!” Kedua mata Kaisar Ming membelalak. Namun, hanya dalam sekejap, ekspresinya kembali dingin seperti semula, seolah keterkejutannya tadi tak pernah terjadi. “Ekhm…” Ia berdehem pelan, menegakkan duduknya. “Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya dengan nada seolah tak peduli. Pengawal itu menunduk lebih dalam. “Ampun, Yang Mulia… saat ini Nona Mo masih bertarung dengan mereka.” “Apa?!” Kali ini Kaisar Ming langsun
Cetas… Cetas… “A–ampun, Yang Mulia… hamba sudah melaksanakan perintah Anda…” Suara pelayan setia Selir Fai terdengar parau, dipenuhi rasa sakit yang tak tertahan. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali ujung cambuk menyambar kulitnya, meninggalkan jejak perih yang membakar. “Lalu apa hasilnya, hah?!” bentak Selir Fai, suaranya tajam penuh amarah. “Kaisar Ming tetap mencabut gelarku, bukan?! Kau memang tidak becus. rasakan ini!” Cambuk itu kembali menghantam tubuh lemah pelayan tersebut tanpa ampun. mengabaikan suara jeritan demi jeritan yang dilontarkan oleh pelayannya tersebut. “Aaaargh!” Teriakan pilu sang pelayan menggema di keheningan malam, menyayat telinga siapa pun yang mendengarnya. Di luar paviliun, sebuah sosok berdiri di balik bayangan gelap. Ia menyaksikan semuanya tanpa ekspresi. Kepalanya tergeleng pelan, bukan karena iba, melainkan seolah mengiyakan sesuatu yang telah lama ia duga. “Ternyata… dia memang belum berubah,” gumamnya dingin. Tanpa menoleh lag
“Yang Mulia… Yang Mulia!” teriak Kasim Ho sambil berlari tergesa. Kaisar Ming yang tengah menelaah tumpukan surat di atas meja kerjanya langsung menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat kepala, menatap Kasim Ho yang tampak pucat dan kehabisan napas. “Ada apa, Kasim?” tanyanya datar. “I–itu, Yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー