로그인Xia Bai, gadis cantik dan berbakat. Harus tewas ditangan kakaknya yang memiliki hati busuk, akan rasa irinya. "Aku bersumpah, kak. Bila ada kehidupan selanjutnya, aku akan membalaskan dendamku padamu." --- Sementara disisi yang berbeda. Seorang Selir bernama Xia Mo, harus tewas ditangan istri Kaisar Ming yang lainnya. Ia meminum racun yang mengatasnamakan Kaisar Ming, hingga membuatnya tewas dalam mengenaskan. Padahal ini pertama kalinya, Kaisar berkunjung kepadanya. Tetapi, ia malah dibunuh oleh seseorang yang begitu iri dan membencinya, menganggapnya saingin yang harus disingkirkan. "Ya Dewa, kalau boleh aku meminta. tolong balaskan rasa sakit dan dendamku pada mereka semua."
더 보기Malam harinya, saat seluruh istana terlelap dalam sunyi, Xia Mo diam-diam menyelinap keluar dari kamarnya. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara, menyusuri lorong-lorong gelap yang hanya diterangi cahaya remang obor di dinding. Dengan santai, ia terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Ia mengedarkan pandangan sejenak, memastikan keadaan sekitar benar-benar sepi. Setelah itu, ia mendekat dan mengintip melalui celah kecil di pintu. Sunyi. Tak ada siapa pun di dalam. "Syukurlah… aman," gumamnya pelan. Tanpa membuang waktu, Xia Mo segera membuka pintu itu dan menyelinap masuk, lalu menutupnya kembali dengan cepat. Begitu berbalik, matanya langsung disambut deretan rak buku yang menjulang tinggi. Senyumnya perlahan mengembang. "Setidaknya… aku tidak akan bosan," bisiknya lirih. Berbekal sebuah obor di tangannya, Xia Mo mulai menelusuri rak demi rak. Jemarinya sesekali menyusuri punggung buku, memilih mana yang sekiranya
"Arrgh…!" Xia Mo menjerit tertahan, tangannya refleks menyentuh dahi yang berdenyut nyeri. "Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Lan cemas, bergegas mendekat. Namun, Xia Mo mengabaikannya. Dengan gerakan cepat, ia berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang. Tatapannya tajam, menusuk sosok yang baru saja menabraknya. "Apa kau buta, hah?! Kalau berjalan pakai mata, jangan pakai dengkul!" makinya kesal. Orang itu tetap diam. Dari balik cadarnya, ia hanya menatap Xia Mo dengan dingin, tanpa sedikit pun reaksi. Sikap acuh itu justru membuat amarah Xia Mo semakin memuncak. Ia melangkah maju, melupakan Lan yang masih tampak khawatir di belakangnya. "Hai! Aku bicara denganmu!" bentaknya. Lalu ia menyeringai sinis. "Oh, aku tahu… bukan cuma buta. Kau juga tuli, ya?" Hening. Pria itu masih tidak bergeming. Namun, kesabarannya rupanya ada batasnya. Dalam sekejap, ia mengangkat tangan—dan— "Kau—hm… hm…!" Mata Xia Mo langsung membelalak. Bibirnya bergerak, tetapi tak satu
“Yang Mulia… Yang Mulia, gawat, Yang Mulia!” Kaisar Ming yang tengah menekuni laporan di tangannya segera menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara panik pengawal pribadinya. Ia mengangkat pandangan, menatap sang pengawal dengan ekspresi datar. “Ada apa? Mengapa kau terlihat begitu panik?” tanyanya tenang. “Ampun, Yang Mulia… Nona Mo, dia…” Nama itu seketika membuat tatapan Kaisar Ming berubah tajam. “Ada apa dengan gadis itu?” suaranya terdengar lebih tegas. “Ampun, Yang Mulia… Nona Mo saat ini sedang berkelahi dengan preman pasar.” “Apa?!” Kedua mata Kaisar Ming membelalak. Namun, hanya dalam sekejap, ekspresinya kembali dingin seperti semula, seolah keterkejutannya tadi tak pernah terjadi. “Ekhm…” Ia berdehem pelan, menegakkan duduknya. “Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya dengan nada seolah tak peduli. Pengawal itu menunduk lebih dalam. “Ampun, Yang Mulia… saat ini Nona Mo masih bertarung dengan mereka.” “Apa?!” Kali ini Kaisar Ming langsun
Cetas… Cetas… “A–ampun, Yang Mulia… hamba sudah melaksanakan perintah Anda…” Suara pelayan setia Selir Fai terdengar parau, dipenuhi rasa sakit yang tak tertahan. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali ujung cambuk menyambar kulitnya, meninggalkan jejak perih yang membakar. “Lalu apa hasilnya, hah?!” bentak Selir Fai, suaranya tajam penuh amarah. “Kaisar Ming tetap mencabut gelarku, bukan?! Kau memang tidak becus. rasakan ini!” Cambuk itu kembali menghantam tubuh lemah pelayan tersebut tanpa ampun. mengabaikan suara jeritan demi jeritan yang dilontarkan oleh pelayannya tersebut. “Aaaargh!” Teriakan pilu sang pelayan menggema di keheningan malam, menyayat telinga siapa pun yang mendengarnya. Di luar paviliun, sebuah sosok berdiri di balik bayangan gelap. Ia menyaksikan semuanya tanpa ekspresi. Kepalanya tergeleng pelan, bukan karena iba, melainkan seolah mengiyakan sesuatu yang telah lama ia duga. “Ternyata… dia memang belum berubah,” gumamnya dingin. Tanpa menoleh lag
“Yang Mulia… Yang Mulia!” teriak Kasim Ho sambil berlari tergesa. Kaisar Ming yang tengah menelaah tumpukan surat di atas meja kerjanya langsung menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat kepala, menatap Kasim Ho yang tampak pucat dan kehabisan napas. “Ada apa, Kasim?” tanyanya datar. “I–itu, Yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰