Gadis kecil di layar itu mengenakan rok tutu merah muda, kuncir kuda tinggi, dan pita merah besar. Dia tampak seperti seorang putri dari dongeng. Wajahnya tembem, matanya besar dan juga cerah. Saat tersenyum, dua lesung pipi itu membuatnya makin menggemaskan.Dia duduk di sana, ditopang oleh kedua tangannya, sambil mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia sesekali menyerukan 'wah', seolah-olah dia benar-benar menyerap informasi tersebut.Namun, dia hanyalah replika AI. Teknologi mencoba menghidupkan gambar tersebut, tetapi terlalu disengaja dan jejaknya terlalu kuat.Hanya saja, ini sudah merupakan tingkat teknologi tertinggi yang bisa dicapai saat ini.Tristan tampak sangat serius. Begitu selesai membaca dongeng itu, dia terdiam lama, lalu bertanya tanpa menoleh, "Lucia, masih mau dengar lagi?""Kak, bukankah kita sudah janji nggak boleh sedih?"Mata gadis kecil di layar itu tampak berkaca-kaca, yang sepertinya akan berlinang air mata.Tristan menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak
Read more