“Ck, kamu diam-diam lihat foto Naya lagi?” Darren meletakkan foto kembali ke dalam laci, lalu mengangkat alisnya sembari menatap Selina. “Kenapa nggak ketuk pintu dulu sebelum masuk?”“Aku sudah ketuk. Kamu sendiri yang nggak dengar.”Selina mengambil charger ponsel dari atas meja Darren, tetapi dia tidak buru-buru meninggalkan ruangan, melainkan menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Darren. Dia menyandarkan sikunya di atas permukaan meja, lalu menatap Darren dengan tatapan menyindir.“Kak, kalau kamu suka, kejar dia, kenapa malah sembunyi-sembunyi? Semua ini nggak seperti kamu.” Selina kembali mendekat. Dia sudah berusaha merendahkan nada bicaranya, tetapi tetap terdengar nada antusias di dalamnya.“Kalau kamu nggak enak hati untuk buka suara, biar aku saja yang gantiin kamu untuk utarakan perasaan! Naya itu sahabat terbaikku. Aku sungguh berharap dia bisa menjadi kakak iparku.”Kening Darren berkerut. Tatapannya kelihatan mendalam. “Kita bicarakan lagi setelah kasus perceraian
Read more