Shanaya mengamati seluruh interaksi tersebut dengan tenang. Devina yang sengaja mengabaikannya, Stanley yang diam-diam mengizinkan Devina berbuat seperti itu, dan undangan yang tidak tulus ini, semuanya terlihat sangat jelas.Shanaya memaksakan senyum dan menyahut, "Nggak usah. Kalian kumpul saja. Aku masih ada urusan lain." Seusai berbicara, Shanaya tidak melirik Stanley lagi. Pandangannya beralih ke Rafael, tetapi dia juga hanya memberi anggukan sopan. Kemudian, dia berbalik dan berjalan pergi dengan sikap acuh tak acuh.Pandangan Rafael mengikuti sosok Shanaya yang menjauh. Di balik senyum lembutnya, tersembunyi ekspresi yang kompleks dan sulit dibaca.Stanley berdiri terpaku di tempat. Pandangannya juga tertuju pada sosok Shanaya yang menjauh. Melihat sikapnya yang tidak pernah tunduk, menjaga jarak, dan dingin, perasaan jengkel dan tidak senang tiba-tiba muncul di hati Stanley."Stanley, Rafael, ayo pergi. Aku sudah pesan tempat di restoran." Devina tersenyum manis, lalu merangk
閱讀更多