Yalina berpura-pura tenang dan buru-buru berdalih, "Naya, kok kamu ngomongnya gitu? Waktu orang tuamu meninggal, kamu masih di bawah umur. Kami nggak tega biarkan kamu masuk ke panti asuhan, makanya kami jadi walimu dan bantu kelola asetmu!"Alvin juga segera menimpali dengan nada berpura-pura galak, tetapi sebenarnya sudah ketakutan, "Makanya! Setelah orang tuamu meninggal, perusahaan terlilit utang besar sampai-sampai rumah kalian harus digadaikan. Itu nggak ada bedanya dengan cangkang kosong! Kalau bukan karena kita itu keluarga, siapa yang mau urus kekacauan itu! Kamu jangan nggak tahu berterima kasih!"Shanaya hanya mendengar mereka berdalih dengan ekspresi dingin. Tangannya diam-diam terkapal erat. Sekarang masih bukan waktunya. Arifin, mantan sopir ayahnya, masih menyelidiki apa yang terjadi saat itu, tetapi belum menemukan bukti yang lebih meyakinkan. Shanaya hanya bisa bersabar sampai dia mendapatkan bukti tak terbantahkan. Setelah itu, dia akan membuat mereka merasakan akiba
Read more