“Stanley, nggak ada yang nggak bisa dibicarakan di antara sesama sahabat. Hari ini, kamu jujur di hadapan aku dan Rafael, sebenarnya siapa yang kamu sukai? Shanaya atau Devina?”Tubuh Stanley seketika tertegun. Pikirannya kacau balau seperti benang kusut. Berbagai bayangan bercampur aduk, emosi bergelora hebat, tetapi dia sama sekali tidak mampu menemukan penyelesaiannya. Hanya saja, satu-satu yang dipikirkan Stanley adalah ….“Aku nggak boleh merugikan Devi.” Stanley terdiam dalam waktu lama. Jakunnya tidak berhenti bergerak, kemudian dia baru berbicara dengan suara serak. Ucapan ini sama saja dengan menunjukkan sikapnya.Damian melihat ekspresi pergulatan batin dan keras kepala Stanley, dia sekiranya sudah mengerti. Damian menghela napas. Nada bicaranya terdengar berat, tetapi langsung mengatakan inti permasalahannya, “Stanley, kalau kamu benar-benar sudah memutuskan untuk memberi status kepada Devina dan ingin tanggung jawab terhadapnya, kamu lepaskan Shanaya saja. Bercerailah denga
อ่านเพิ่มเติม