“Nenek,” sapa Clarin dengan suara lembut.“Halo ….” Nenek Vivian menoleh sambil tersenyum ramah. Melihat Clarin berjalan mendekat, dia segera melambaikan tangan. “Cepat sarapan dulu, jangan sampai perutmu kosong.”Dia juga pernah melalui masa itu. Dia tahu, memasuki trimester akhir, ibu hamil makan sedikit tapi cepat lapar.Clarin pun berhenti.“Nenek, kalau begitu aku sarapan dulu ya.”“Iya, begitu dong, anak baik.” Nenek Vivian mengangguk puas.Setelah sarapan, Clarin kembali ke ruang tamu dan belajar merangkai bunga bersama nenek.Selesai merangkai, Nenek Vivian tersenyum penuh arti.“Clarin, pergi ambil kalung mutiara yang semalam dibelikan Carles untukmu. Pakai dan tunjukkan pada Nenek.”Clarin spontan menyangkal, “Nenek, kalung itu bukan dibelikan untukku.”“Bukan untukmu?” Mata Nenek Vivian dipenuhi tanda tanya.“Mungkin untuk Ibu,” jawab Clarin dengan senyum tipis.Nenek Vivian terdiam, tenggelam dalam pikirannya.Belakangan ini bukan ulang tahun menantunya, juga bukan hari bes
Read more