Pikiran Gilang seketika melayang pada skandal hebohnya dengan Mayang. Meski isu Bu Jenny sempat mengalihkan perhatian, tiba-tiba dipanggil Pak Dekan jelas membuatnya gelisah."Iya, Lang. Tadi Pak Dekan berpesan, setelah kelas selesai kamu langsung menemui beliau di ruangannya. Kamu tahu, kan, ruang dekan sebelah mana?" ujar Pak Kartono."Tahu, Pak." Gilang mengangguk. "Tapi kira-kira ada apa, ya?" tanyanya basa-basi, meski sebenarnya ia sudah bisa menebak alasan pemanggilan itu."Mana saya tahu, Lang," jawab Pak Kartono santai sambil merapikan buku-bukunya. "Mungkin mau ngomongin beasiswa kamu. Mungkin, loh, ya. Saya juga nggak tanya. Jadi, mending kamu langsung ke sana saja. Saya sudah bilang ke beliau kalau kelas selesai jam tiga sore.""Baik, Pak. Saya permisi dulu...""Iya, Lang. Hati-hati jalannya. Jangan nabrak-"Duk!"...tuh, kan, nabrak..."Perkataan adalah doa. Gara-gara Pak Kartono bilang jangan nabrak, Gilang benar-benar menabrak dinding pintu. Seolah pertanda buruk, belum
Read more