Begitu mereka tiba di ruang tamu, Ratih sudah duduk di sana dengan postur anggun seperti biasanya. Begitu melihat kedatangan keluarga itu, ia segera berdiri dan tersenyum kecil—senyum yang tampak sopan, tapi ada guratan gelisah di ujung bibirnya.“Maaf mengganggu waktu kalian malam begini,” ucapnya dengan nada lembut, hampir seperti orang yang baru saja kehilangan arah.Wulan menepuk lembut tangan Ratih dan mempersilakannya duduk kembali. “Tidak apa-apa, Ratih. Anggap seperti keluarga sendiri,” ucapnya ramah. “Ada apa sampai kamu datang malam-malam?”Ratih mengerjap, menatap Wulan, lalu Nathan, dan yang lain. Saat tatapannya berhenti pada Ryan, ekspresinya berubah drastis—pucat, rapuh, dan penuh rasa bersalah.“Ryan…” suaranya pecah. “Tadi Mama ke rumah kalian, tapi tidak ada orang. Mama sebenarnya mau membicarakan masalah klinik. Maafkan Mama… Mama benar-benar tidak becus mengurusnya.” Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, seolah ingin mencegah isakan
Terakhir Diperbarui : 2025-11-22 Baca selengkapnya