Emosi Wulan sudah memuncak setelah lebih dari satu jam menunggu antrean di salon.“Ki, kamu tidak reservasi atas nama Dania, ya?” suaranya meninggi, menahan kesal.Wanita berjas hitam dengan celana hitam senada itu menunduk sopan. “Maaf, Bu. Saya sudah memesankan atas nama Bu Dania,” jawab Kiki lembut, berusaha tetap tenang.“Lalu, kamu tidak jelaskan siapa Dania itu?” cecar Wulan, nadanya semakin tajam.Dania yang sejak tadi hanya diam, segera meraih tangan mertuanya. “Ma… kita cari salon lain saja, ya?” ujarnya pelan, mencoba meredakan suasana.“Tidak, Sayang.” Wulan menatap seberang jalan dengan wajah tak sabar. “Salon ini yang paling bagus di kota ini. Mama telepon Tara saja biar bantu uruskan.”Namun saat Wulan hendak mengambil ponselnya, Kiki cepat-cepat mencegah. “Tidak perlu, Bu. Saya akan ke salon itu lagi dan minta mereka percepat antreannya.”Tanpa menunggu persetujuan, Kiki langsung melangkah pergi. Senyum tipis terlukis di wajahnya—senyum yang hanya dia sendiri tahu makna
Terakhir Diperbarui : 2025-11-10 Baca selengkapnya