Dua hari berikutnya. Mei Anqi melakukan perjalanan jauh menghampiri Mansion Fei. Sesampainya di sana, ia terkagum mendapati kemegahan Mansion pribadi Raja Fei. Pantas menyandang gelar Raja terkaya dalam sejarah. Kemewahan Mansion Fei bisa dibandingkan dengan Istana Naga milik Kaisar. “Nyonya, selamat datang.” Kepala pelayan, wanita seusia Bibi Chen, menyapa sopan di depan gerbang. Barisan rapi pelayan berjajar di belakangnya membentuk garis lurus sejajar. Wajah dari para pelayan di Mansion hampir rata-rata enak dilihat dalam artian punya kecantikan dan ketampanan standar. Estetika Raja Fei tentang keindahan memang tak perlu diragukan lagi. “Kalian semua bisa bangun,” ucap Mei Anqi membalas kesopanan barusan. “Jiali, beri salam kepada Nenek.” Kepala Pelayan— Bibi Lau, terkesiap mendengar sebutan ‘Nenek’. “Nyonya, hamba tidak pantas menerima sebutan Nenek. Putri adalah keturunan Raja Yan, saya hanya hamba sahaya rendahan.” “Tidak apa-apa, Bibi Lau. Anda seperti Ibu
Read more