Udara di taman Istana Luxiao terasa sejuk, namun bagi Lin Ruyue, setiap embusan anginnya membawa aroma persaingan yang menyesakkan. Sore itu, Selir Agung Shen mengadakan perjamuan teh, sebuah tradisi yang di atas kertas tampak seperti ramah tamah, namun di baliknya adalah pengadilan bagi para wanita istana.Lin Ruyue turun dari tandu dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia memilih gaun berwarna biru pucat dengan sulaman perak tipis. Gaun itu tidak terlalu mencolok untuk menyinggung si tuan rumah, namun cukup elegan untuk menunjukkan bahwa ia bukan lagi "Putri Buangan" yang bisa diabaikan. Di tangannya, sebuah kipas sutra putih dengan lukisan bambu menjadi senjatanya."Tuan Putri Huaixing telah tiba!" seru pelayan istana.Percakapan di paviliun taman itu mendadak terhenti. Di kursi utama, duduk Selir Agung Shen. Wajahnya awet muda, namun sorot matanya sedingin es yang membeku di puncak gunung. Di sekelilingnya, duduk para nyonya menteri, termasuk Nyonya Zhao yang mengenakan perh
Last Updated : 2025-12-29 Read more