Lia masuk ke dalam mobil dan menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang nyaman. "Dia memohon, Arka. Dia berlutut di kakiku dan menangis seperti anak kecil. Dia bahkan menawarkan kunci brankas Swiss milik Surya." Lia menoleh ke arah Arka, matanya berkilat penuh gairah akan kekuasaan. "Aku katakan padanya bahwa nasibnya ada di tanganmu. Aku menyebutmu sebagai 'calon suamiku'."Arka menaikkan sebelah alisnya, ia masuk ke kursi pengemudi dan menatap Lia dengan intensitas yang dalam. "Calon suami? Itu sebutan yang sangat berani, Lia. Tapi aku menyukainya. Itu menunjukkan kepada dunia bahwa kau adalah milikku, dan siapa pun yang berurusan denganmu, berurusan dengan seluruh kekuatanku."Arka menjalankan mobilnya, meninggalkan gedung itu menuju malam yang semakin larut. "Dia akan memberikan kuncinya besok. Dan setelah itu, Surya tidak akan punya tempat lagi untuk bersembunyi. Kamu melakukannya dengan sangat baik, Ratu. Intimidasi yang sangat cantik."Lia menggenggam tangan Arka, merasaka
Read more