LOGINDemi melunasi utang, Lia Sanjaya diserahkan kepada Arka Dirgantara, pria berdarah dingin yang terobsesi untuk memiliki segalanya. Lia datang bukan untuk memohon ampun, melainkan menggunakan kecantikannya untuk menyeret Arka ke dalam rencana balas dendam yang berbahaya. Di mansion megah itu, kontrak utang berubah menjadi perang gairah yang tanpa ampun. Siapkah Lia menghadapi obsesi gelap Arka?
View MoreSuasana di kediaman Sanjaya malam itu terasa lebih mencekam daripada biasanya. Hujan lebat yang mengguyur Jakarta seolah berusaha membasuh dosa-dosa yang sedang direncanakan di dalam sebuah ruang kerja tertutup di lantai bawah. Lia Sanjaya, dengan langkah tanpa suara, berjalan menyusuri koridor panjang yang dindingnya dihiasi foto-foto almarhum ayahnya. Ia baru saja kembali dari dapur untuk mengambil segelas air hangat ketika sayup-sayup suara Surya dan Rina tertangkap oleh indra pendengarannya. Pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang membiarkan rahasia busuk mereka bocor keluar.
"Arka Dirgantara tidak akan memberikan waktu lagi, Surya! Jika besok pagi bunga utangnya tidak masuk ke rekening Dirgantara Group, dia akan menyita rumah ini dan seluruh aset yang tersisa. Kita akan menjadi gelandangan!" Suara Rina terdengar melengking, penuh ketakutan yang egois. Tidak ada nada sedih untuk kebangkrutan keluarga, yang ada hanyalah ketakutan akan kehilangan gaya hidup mewahnya.
Lia mematung. Arka Dirgantara. Ia mengenal nama itu. Pria yang dijuluki Sang Alpha di dunia bisnis, seorang predator tanpa belas kasih yang dikenal mampu menghancurkan sebuah kerajaan bisnis hanya dengan satu jentikan jari. Pria yang selama ini menjadi momok bagi para debitur yang gagal bayar.
"Aku tahu! Kamu pikir aku tidak berusaha?" Suara Surya terdengar berat dan serak, bercampur dengan aroma cerutu yang tercium hingga ke luar.
"Tapi semua bank sudah menutup pintu. Saham Sanjaya Group sudah sampah. Hanya ada satu hal yang diinginkan Arka sekarang. Dia tidak butuh uang receh dari aset-aset yang sudah membusuk ini. Dia menginginkan jaminan yang lebih ... personal."
Lia menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sinyal bahaya yang nyata.
"Maksudmu ... Lia?" tanya Bibi Rina dengan nada yang tiba-tiba berubah, seolah baru saja menemukan solusi yang brilian.
"Dia satu-satunya aset berharga yang kita miliki sekarang," Surya menjawab dengan nada dingin yang membuat darah Lia membeku.
"Arka punya reputasi sebagai penakluk. Dia menyukai hal-hal yang murni, cerdas, dan keras kepala. Lia memenuhi semua kriteria itu. Jika kita mengirimnya malam ini ke mansion Dirgantara sebagai 'persembahan' untuk menjamin restrukturisasi utang, Arka akan memberikan kita napas tambahan. Bahkan mungkin, dia akan membatalkan penyitaan."
"Tentu saja!" Rina menimpali dengan antusiasme yang memuakkan. "Lia yatim piatu, tidak ada yang akan mencarinya. Dia akan tinggal di mansion mewah itu, melayani Arka, dan kita tetap bisa mempertahankan status kita. Lagipula, Arka Dirgantara itu tampan dan sangat kaya. Lia seharusnya berterima kasih karena kita memberinya tiket menuju puncak kekuasaan."
Lia tidak menunggu lebih lama lagi. Rasa mual yang muncul di perutnya berubah menjadi api kemarahan yang membakar. Ia tidak menangis. Sejak kematian ayahnya dua tahun lalu, ia telah belajar bahwa air mata tidak pernah menyelesaikan masalah, terutama saat berhadapan dengan serigala berbulu domba seperti paman dan bibinya sendiri.
Dengan sentakan kasar, Lia menendang pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar, membentur dinding dengan suara dentuman yang keras. Surya dan Rina tersentak, hampir terjatuh dari kursi masing-masing.
"Berapa harga yang kalian tetapkan untuk keponakan kalian sendiri?" Suara Lia keluar dengan nada rendah namun penuh otoritas. Ia berdiri tegak, dagunya terangkat, matanya berkilat penuh penghinaan. Tidak ada jejak ketakutan di wajahnya, hanya ada keberanian yang murni dan tajam.
Surya segera berdiri, mencoba memasang wajah wibawa yang sudah lama tanggal.
"Lia, kamu tidak seharusnya menguping pembicaraan orang tua. Ini urusan bisnis yang sangat rumit ...."
"Bisnis?" Lia tertawa kecil, suara tawa yang kering dan menyakitkan.
"Menjual keponakan sebagai barang jaminan seksual adalah bisnis bagi kalian? Kalian sudah menghabiskan seluruh warisan yang ayahku tinggalkan untukku. Kalian memalsukan audit asuransi ibu untuk menutupi utang judi Paman. Dan sekarang, setelah tidak ada lagi uang yang bisa diperas, kalian ingin menjual tubuhku?"
"Jaga bicaramu, Lia!" Rina berdiri, wajahnya memerah karena malu yang bercampur amarah. "Kami sudah memberikanmu tempat tinggal setelah orang tuamu meninggal. Kami memberimu makan!"
"Kalian memberiku tempat tinggal di rumah yang sebenarnya adalah milikku! Kalian memberiku makan dari uang yang seharusnya menjadi tabungan pendidikanku!" Lia melangkah maju, masuk ke tengah ruangan. Tekanan mental yang ia berikan begitu kuat hingga Surya terpaksa mematikan cerutunya dengan tangan gemetar.
"Aku adalah seorang guru, aku bisa hidup mandiri tanpa bantuan kalian. Malam ini juga, aku akan pergi dari sini dan kalian bisa menghadapi Arka Dirgantara sendirian. Biarkan dia membusukkan kalian di penjara karena penipuan aset."
Lia berbalik untuk keluar, namun suara tawa Surya yang parau dan licik menghentikan langkahnya. Pria itu tidak lagi tampak takut. Ia justru bersandar di mejanya, menatap Lia dengan tatapan seorang pemenang yang sudah menyiapkan jebakan terakhir.
"Panggil namaku. Arka," ucapnya tegas, namun ada nada lembut yang sangat posesif di sana. "Aku ingin mendengar suaramu menyebut namaku tanpa jarak. Aku ingin namaku menjadi kata terakhir yang kau sebut sebelum kau tidur, dan kata pertama yang kau ucapkan saat kau bangun. Tanpa embel-embel, tanpa protokol."Lia ragu sejenak. Menyebut nama pria paling ditakuti di Jakarta itu tanpa gelar terasa seperti melompat ke dalam jurang tanpa pengaman. Namun, di bawah tekanan tatapan Arka, ia tidak punya pilihan. "Arka ...," bisiknya pelan.Nama itu meluncur dari bibir Lia seperti sebuah pengakuan dosa yang manis, dan Arka tampak sangat menikmati setiap getaran suku katanyaSenyum tipis, hampir tak terlihat namun mematikan, muncul di sudut bibir Arka. "Sekali lagi, Lia. Biarkan aku mendengarnya lebih jelas.""Arka," ulang Lia, kali ini sedikit lebih mantap, meskipun jantungnya berpacu liar."Bagus," Arka melepaskan dagu Lia dan beralih meraih sebuah kotak beludru hitam berukuran besar yang te
Cahaya matahari pagi yang mulai meninggi menembus celah-celah gorden sutra berat di kamar utama mansion Dirgantara, menciptakan garis-garis emas yang membelah keheningan ruangan yang luas dan megah itu. Cahaya itu menari di atas lantai marmer, memantul pada furnitur antik, dan akhirnya mendarat di atas ranjang king size yang berantakan—saksi bisu dari pertempuran gairah yang tak kenal ampun beberapa jam sebelumnya.Lia Sanjaya perlahan membuka matanya. Kelopak matanya terasa berat, seolah-olah mimpi semalam—atau mungkin kenyataan yang lebih liar dari mimpi—masih enggan melepaskannya dari pelukan kegelapan yang manis. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma yang memenuhi setiap pori-pori udara di sekitarnya. Itu adalah aroma Arka: kombinasi antara wangi kayu cendana yang mahal, aroma sabun maskulin yang tajam, dan bau gairah yang masih tertinggal, meresap ke dalam sprei sutra hitam yang membungkus tubuhnya. Kesadarannya kembali seperti hantaman ombak yang tiba-tiba, dingin dan menge
Setiap memar kecil dan tanda merah yang ia tinggalkan di kulit Lia semalam adalah simbol dari klaim mutlaknya, sebuah peta kepemilikan yang ia lukis dengan gairah dan otoritas. Namun, pagi ini, di bawah siraman cahaya fajar yang menembus celah gorden, Arka merasakan dorongan protektif yang begitu kuat hingga hampir terasa menyakitkan di dadanya. Arka merunduk, menatap wajah Lia yang masih terlelap dengan intensitas yang luar biasa. Jemarinya yang panjang bergerak sangat perlahan, merapikan beberapa helai anak rambut yang menutupi kening dan pipi Lia, menyisipkannya ke belakang telinga agar kecantikan wanita itu terlihat jelas tanpa penghalang. Ia mengagumi setiap inci pahatan wajah itu—bulu mata yang lentik, hidung yang bangir, dan bibir yang masih sedikit bengkak akibat ciumannya semalam.Ia membayangkan bagaimana paman Surya telah memperlakukan wanita secantik ini seperti barang dagangan selama bertahun-tahun, dan rasa amarah yang dingin mulai membakar dadanya kembali. Kehancuran S
Cahaya fajar yang pucat merambat perlahan melalui celah-celah tirai beludru abu-abu di kamar utama mansion Dirgantara, menyapu lantai kayu eboni yang mengilap dan akhirnya berhenti di atas tempat tidur berukuran raksasa yang masih berantakan. Di sana, di tengah kepungan sprei sutra hitam yang dingin, Arka Dirgantara terjaga. Ia tidak bergerak sedikit pun, membiarkan tubuhnya tetap menjadi sandaran bagi wanita yang kini meringkuk di pelukannya. Arka, pria yang biasanya langsung terjaga dengan kewaspadaan penuh seorang predator bisnis tepat saat matahari menyentuh cakrawala, kini justru memilih untuk tetap diam, tenggelam dalam keheningan yang asing namun memabukkan. Ia menatap wajah Lia Sanjaya yang sedang tertidur lelap dengan napas yang teratur dan halus, sebuah kontras yang luar biasa setelah badai intensitas yang mereka lalui semalam.Tatapan Arka menyusuri setiap detail wajah Lia dengan ketelitian seorang kurator seni yang baru saja menemukan artefak yang paling berharga sekalig






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.